Cipto Aji Gunawan - Marine Eco Tourism Development Consultant - PADI (Professional Association of Diving Instructors) Master Instructor and Course Director - Underwater Photo - Video Production & Training.... "Serving the Diving Industry since 1992"

Cipto's posts with tag: uw photography

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag uw photography
Blog EntrySekelumit Tentang Fotografi Bawah AirMar 20, '08 6:56 AM
for everyone

Underwater Photography

Saya memulai fotografi bawah air sejak tahun 1995, dengan menggunakan kamera nikon f801, waktu itu pemotretan bawah air adalah hobi yg sangat mahal. Karena pekerjaan saya sebagai Instruktur Selam, saya memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan hobi ini tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam.

Sejak revolusi digital di era tahun 2000an, perkembangan fotografi bawah air menjadi semakin cepat, bahkan akhir2 ini, semakin banyak saja orang membawa kamera kedalam air. Kendala biaya yang dulu merupakan momok utama sudah dapat diatasi.

 

Apa Kendala Fotografi Bawah Air?

Untuk menekuni fotografi bawah air, diperlukan skill dan pengetahuan yang sedikit berbeda dengan fotografi darat. Seorang fotografer bawah air memiliki waktu yang sangat terbatas didalam setiap sesi foto. Waktu penyelaman sangat tergantung dari kedalaman, ukuran tabung selam yang dibawa serta kondisi lingkungan dan kondisi tubuh si fotografer (misalnya kalau menyelam di daerah berarus, tentunya akan lebih cepat menghabiskan udara, penyelaman yg makin dalam juga menghabiskan banyak udara serta terbatas waktunya dengan perhitungan dekompresi dan resiko nitrogen narkosis).

Seorang fotografer bawah air mutlak haruslah seorang Certified Diver. Pada saat kursus menjadi certified diver inilah, si calon fotografer akan mempelajari kaidah-kaidah penyelaman yang aman dan juga ketrampilan yang dibutuhkan selama penyelaman.

Setiap fotografer yang belum pernah memotret di bawah air mungkin sulit membayangkan, bahwa kendala pertama dan terbesar dari pemotretan di bawah air adalah stabilitas fotografer pada saat mengambil gambar. Di darat kita bisa berdiri, bahkan bisa menggunakan tripod sehingga stabil. Dibawah air kita senantiasa "terbang" dan tidak bisa mendapatkan pijakan yang solid. Kita harus dapat memotret dalam keadaan sambil "melayang-layang". Bisa dibayangkan bagaimana kita mengambil sebuah gambar yang bergerak dan pada saat yang bersamaan kita juga tidak stabil. Untuk foto macro, kita masih bisa "berdiam" di dasar (tentunya sambil memperhatikan sekeliling sehingga tidak merusak terumbu karang, terkena binatang laut berbahaya, atau mengaduk-aduk pasir sehingga merusak jarak pandang). Pemotretan macro yg dilakukan sambil melayang merupakan tantangan tersendiri. Untuk wide angle, juga sebagian dilakukan sambil melayang.

Untuk mengatasi kendala pertama tersebut, seorang fotografer bawah laut wajib hukumnya memiliki ketrampilan "buoyancy" yang baik. Semakin baik skill buoyancy ini, semakin stabil pula si fotografer di bawah air.  

Peralatan Fotografi Bawah Air Seperti Apa?

Peralatan fotografi bawah air sebenarnya hanyalah sebuah kamera "darat" yang di lengkapi housing (rumah kedap air). Sekarang banyak kamera poket yang memiliki housing bawah air seperti ini. Kamera poket standar yg banyak di jual sebenarnya sudah dapat digunakan mengambil gambar di bawah air, walaupun hanya efektif untuk mengambil gambar dengan ukuran subjek sekitar 3-15 cm dengan jarak pemotretan sekitar 5 - 30 cm. 

Penggunaan kamera poket utk pemotretan macro adalah jenis underwater fotografi yang paling mudah dilakukan. Dengan memilih subjek yg relatif tidak bergerak, si fotografer hanya perlu mengatur intensitas cahaya serta mendekati subjek, mem fokus dan memotret. Apabila subjeknya aktif bergerak, pemotretan ini menjadi semakin sulit. 

Kamera poket standar ini juga lumayan apabila digunakan untuk pemotretan siluet. Untuk pemotretan wide angle, kamera poket dapat dilengkapi tambahan lensa didepannya serta perlu menggunakan external flash. Resiko vignet biasanya menjadi kendala apabila kamera poket dipakai untuk potret wide angle dengan menggunakan lensa tambahan. Pengaturan white balance yang optimal serta penambahan filter merupakan pilihan untuk mengurangi warna biru yang sangat dominan pada foto wide angle.

Kamera dslr memiliki keunggulan sendiri dalam mereproduksi warna di bawah air. Dengan sensor yang relatif lebih besar, kendala noise bisa diminimalkan. Kualitas lensa dslr-pun cenderung lebih baik dari kamera poket.

Selama ini lensa dslr yang paling populer untuk pemotretan bawah air adalah (referensi saya Nikon, karena selama ini saya pengguna nikon): 10,5mm, 12-24, 17-35 (utk lensa wide dan zoom), 60mm macro dan 105mm macro (macro), 180mm/200mm macro (extreme macro). Dibawah air, lensa-lensa ini akan berubah focal length-nya. dengan faktor 1,33x, sehingga utk mendapatkan efek wide, kita perlu lensa darat yg benar-benar wide (belum lagi memperhitungkan cropping factor dari sensor kamera yang digunakan, kecuali anda pakai full frame sensor).

 Reproduksi Warna di Bawah Air

Air adalah filter raksasa, sebuah filter yang mampu menyerap gelombang cahaya matahari. Hal ini menyebabkan reproduksi warna di bawah air menjadi kendala tersendiri. Pada kedalaman sekitar 3-5m, kita sudah hampir kehilangan warna merah, selanjutnya semakin dalam menyelam, warna2 jingga, kuning, hijau dst juga menghilang. Pada kedalaman sekitar 20m, tanpa flash kita hanya akan merekam warna biru saja. Hal ini diperburuk apabila kondisi airnya keruh.

Penyerapan warna dibawah air terjadi secara vertikal dan horisontal, artinya makin jauh jarak kamera dengan subjek, makin hilang pula warnanya serta berkurang pula ketajaman subjek. Belum lagi kalau kondisi perairan keruh, seperti halnya kita memotret didalam kabut.

Untuk mendapatkan warna asli dari subjek dibawah air, wajib hukumnya menggunakan flash (walaupun utk pemotretan dangkal sebenarnya ada jenis filter khusus yg bisa digunakan). Tanpa flash, semua subjek yg kita potret akan berwarna biru/hijau/cyan yg berlebihan. Kekuatan flash pun mempengaruhi sejauh mana warna akan timbul. Sayangnya walaupun kita menggunakan flash paling kuat pun, jangkauan flash hanya sekitar 3-4m. Manipulasi white balance pada kasus tertentu juga dapat mengembalikan nuansa warna asli (walau tidak besar). Perhitungan Guide Number yang biasa kita pakai di darat kurang tepat apabila kita terapkan dibawah air.

 Aturan yang paling penting didalam usaha memproduksi warna di bawah air adalah "mendekatlah ke subjek, semakin dekat semakin baik, kalau anda sudah merasa dekat, artinya anda masih kurang dekat" sedekat apa kita dengan subjek pada kenyataannya sangat dipengaruhi oleh lensa yg digunakan, komposisi yg diinginkan serta kondisi lingkungan dan subjek yang akan dipotret dan juga tentunya ketrampilan kita di bawah air.

Partikel di air juga menjadi tantangan tersendiri. Sudut penggunaan flash yang salah akan menyebabkan makin banyaknya partikel yg ikut terekam pada gambar, sehingga timbul titik-titik partikel yg di sebut back scatter. Back scatter dapat diminimalisasi dengan penempatan sudut flash secara tepat, namun kadang2 masih juga terekam apabila kita memotret pada kondisi air yg kurang jernih. Untuk pemotretan macro, back scatter ini biasanya tidak terlalu mengganggu. Semakin wide, back scatter ini akan makin menggangu.

Fotografi Alam Bawah Air dan Fotografi Model di Bawah Air

Fotografi bawah air termasuk bagian dari wild life photography. Selayaknya wild life photography, seorang fotografer harus mempelajari dengan seksama tingkah laku dari subjek foto yang akan diambil. Kadang-kadang tidak mudah mencari seekor ikan tertentu apabila kita tidak mengenal habitatnya. Akan lebih sulit lagi mendapatkan foto yang baik apabila kita tidak mengenal karakter ikan yang ingin kita potret, bahkan untuk beberapa kasus bisa berbahaya.

Pergerakan peselam dan ikan-ikan pelagic harus dipelajari apabila kita ingin mendapatkan posisi yang tepat dalam pengambilan foto wide.

Fotografi bawah air dengan menggunakan model (dilaut tanpa peralatan apapun) juga merupakan tantangan tersendiri. Fotografi jenis ini baru sangat baru di Indonesia, dan pula sangat jarang dijumpai di dunia. Hal ini tidaklah mengherankan, kesulitan yang timbul pada sesi pengambilan gambar bawah air dengan model menjadi berlipat-lipat, kesulitan ini tidak hanya pada setting lokasi, namun juga pada fotografer, crew dan juga modelnya. Seorang model bawah air yang baik harus memiliki mental dan fisik yang kuat ditunjang pengetahuan dan ketrampilan serta “watermanship” yang baik. Membuat seorang model yang mampu berpose secara natural dibawah air tanpa peralatan apapun merupakan tantangan yang tidak mudah serta dibutuhkan latihan yang terus menerus. Kekuatan sebuah foto jenis ini adalah bagaimana menggabungkan antara ekspresi model yg sangat natural dengan suasana keindahan dasar laut yg berwarna warni dan kaya akan ikan-ikan.

Di darat mudah bagi kita untuk mengarahkan si model, namun dibawah air hal ini menjadi kendala tersendiri, kita harus berinteraksi dengan model hanya dengan mengandalkan "hand signal". Walaupun dipasaran dijual alat komunikasi bawah air, namun harganya cukup mahal. Biasanya model bawah air (di laut khususnya) di potret dengan menggunakan peralatan scuba lengkap. Pemotretan model dibawah air (di laut) pada kedalaman lebih dari 2 meter tanpa menggunakan scuba memerlukan ketrampilan yang harus dilatih secara khusus, hal ini disebabkan meningkatnya resiko bagi si model, terutama resiko tenggelam (air masuk ke paru-paru) atau bahkan pecah nya paru-paru, keduanya bisa menimbulkan kematian. Persiapan pemotretan jenis ini harus direncanakan secara teliti termasuk melatih model untuk berinteraksi dengan safety diver serta dengan fotografernya. Dalam hal ini si fotografer hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk mengambil gambar model pada setiap posenya dan harus mampu menjadi "pagar pengaman" terakhir apabila safety diver yang ditugaskan gagal melaksanakan tugasnya. Kecuali anda punya safety diver yang banyak.

Sesi pemotretan model bawah laut (tanpa peralatan) harus memenuhi syarat keselamatan 3 lapis, yaitu: lapis pertama adalah kemampuan model untuk beraktifitas dibawah air dengan tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang optimum (pengetahuan dan ketrampilan ini tidak sama dengan yang diajarkan pada kursus scuba pada umumnya), Lapis kedua adalah kemampuan safety diver untuk mengenali tanda-tanda “khusus” yang mungkin membahayakan di model, lapis terakhir adalah kemampuan fotografer sebagai “pagar pengaman terakhir”, apabila model maupun safety diver gagal mengantisipasi masalah, fotografer harus mampu mengambil tindakan keamanan untuk mencegah timbulnya kecelakaan.

Demikian berkembangnya kegiatan fotografi bawah laut, diharapkan bisa meningkatkan awareness masyarakat terhadap kehidupan dan kelestarian alam bawah air, yang mana pada saat ini menghadapi ancaman serius dari akibat tindakan manusia.

Salam bahari,

 

Untuk pertanyaan lebih lanjut mengenai fotografi bawah air, anda dapat melayangkan email ke: ciptoag@gmail.com

Original Message -----
Sent: Monday, March 03, 2008 12:48 AM
Subject: [alfa_dolfin] Perlu kah Kusus Underwater Photography

Rekan-rekan,
 
Menikmati foto-foto apik bawah laut, timbul pertanyaan, kog bisa sich mereka meng-create foto nan apik, berseni, serta bernilai jual.....? Apakah di dukung alat atau skill atau sense of arts dari sang fotografer....? pernah di bahas juga bahwa yang menentukan adalah sang fotografer, yang dengan kata lain "The men behind the gun". Jadi gear nomor sekian lah......
 
Pertanyaan-nya, terlepas beberapa penawaran kursus underwater photography oleh beberapa dive center, untuk meng-create foto underwater apik, ber-seni, serta ber-nilai jual, perlu kah join kursus....? adakah teknik tertentu yang di ajarkan di kursus tersebut yang tampak-nya sulit dilakukan secara otodidak....? atau adakah rekan-rekan yang merasakan suatu progress/perubahan sebelum dan sesudah kursus.....?
 
Mohon pencerahan-nya donk.....Thanks
 
cheers

sekilas info....

berkembangnya digital fotografi merupakan salah satu langkah yang luar biasa dalam industri diving. beberapa tahun yang lalu bahkan saya pernah meramalkan bahwa industri diving di dunia (yang pada saat itu cenderung terus menurun) akan kembali bangkit dengan adanya revolusi digital foto. Alasan "ramalan" itu ada beberapa yaitu:
- Dengan digital fotografi, pembuatan gambar di bawah air menjadi relatif jauh lebih mudah dan murah
- Digital fotografi akan memberikan warna kompetisi kepada dunia diving yang selama ini dikenal sebagai "non-competitive" activity
- Digital fotografi memberi alasan kepada orang untuk tetap diving
- Digital fotografi mampu memenuhi "ego" seorang penyelam untuk aktualisasi diri
- Digital fotografi memberi kesempatan kepada orang awam untuk menemukan sesuatu (miaslnya spesies baru) yang luar biasa
 
Kesemua kecenderungan itu saat ini mulai menjadi kenyataan. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, banyak bermunculan fotografer2 baru (era digital) yang secara cepat mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Kompetisi fotografi berlangsung dimana-mana. Penghargaan publik selam terhadap atas prestasi seseorang telah memacu "ego-ego" untuk saling bersaing secara positif (semoga nantinya tidak berubah menjadi hal negatif).
 
Kembali ke topik dibawah, "folks behind the camera" memang sangat menentukan hasil sebuah karya. Apabila di jaman underwater fotografi film kemajuan seseorang cenderung landai dan lama, dijaman digital saat ini, seseorang dapat menjadi seorang underwater fotografer handal dalam waktu sangat singkat. Asal rajin memotret dan punya alatnya (apapun jenisnya), seseorang dapat menguasai teknis underwater fotografi dengan mudah, selanjutnya yang berperan adalah "mata" dan "rasa".
 
Pendidikan/seminar underwater fotografi juga banyak bermunculan, baik yang dilakukan oleh instruktur yang bersertifikat (uw photo certificate), maupun yang dilakukan oleh "instruktur" non certificate. Pendidikan yang cenderung "sekedarnya" sampai yang dilakukan secara serius. Apakah perlu ikut kursus? jawabannya kembali kepada jenis kursus yang mana yang anda pilih.
 
Sebuah kursus underwater photography minimal bisa memberi anda backgraound teori dan teknis untuk pembuatan gambar dibawah air, sehingga proses "try and error" dapat diminimalisasi dan hasilnya anda bisa menghasilkan foto-foto yang baik dalam waktu yang lebih singkat. Idealnya: seorang instruktur underwater photography juga seorang instruktur diving yg berpengalaman dimana sebenarnya banyak trik dan tips pengambilan gambar dibawah air yang berkaitan dengan teknik-teknik diving (apalagi kalau sudah mencakup segi keamanan, lingkungan, pergerakan penyelam, mahluk-mahluk bawah air dan isu-isu konservasi). Seorang instruktur underwater photography yang baik tidak hanya mengajarkan dasar2 teknis fotografi secara mendalam, namun juga dapat memberi trik dan tips yang kemungkinan bahkan tidak terdapat dalam buku manual. Sebuah kursus underwater photography yang lengkap ditambah dengan sedikit pengalaman dan pengetahuan tambahan, tidak saja membuat anda dapat mengambil gambar yang indah namun juga bermakna dan mempunyai ciri khas (biasanya inilah yang akhirnya membedakan seorang fotografer dengan fotografer lainnya).
 
Apakah menjadi fotografer handal hanya dapat dilakukan melalui kursus? tentu saja tidak, dengan banyak membaca buku, melihat karya orang lain, tidak malu bertanya, banyak berdiskusi, banyak menyelam dan banyak memotret, seseorang juga dapat menjadi fotografer handal, hanya saja biasanya makan waktu yang jauh lebih lama (dan duit lebih banyak) apabila dibandingkan orang yang mengambil kursus/seminar yang tepat. Walaupun waktunya tentunya masih jauh lebih singkat dari pada jaman fotografi film.
 
demikian sekilas info...salam
 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, March 12, 2008 12:03 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas pencerahan-nya. Dari informasi yang di sampaikan, saya menggaris bawahi manfaat kursus Underwater Photographi adalah
1. Meminimalisir "try 'n Error" dalam WAKTU SINGKAT
2. Menghasilkan foto yang BAIK dan ber-MAKNA dalam WAKTU SINGKAT
3. Mendapatkan TIPS & TRIK yang tidak terdapat di buku manual
 
Setidaknya 3 manfaat di atas yang bisa diperoleh dari kursus dibandingkan kalau belajar otodidak. Berarti kurang lebih hampir sama dengan kursus fotografi up-water. Tetapi kalau kursus tanpa banyak latihan dan apresiasi may be percuma aja  ya. Yang kemudian menjadi pertanyaan lagi :
1. Apakah dalam kursus diajarkan pengenalan secara spesifik jenis-jenis kamera maupun peralatan yang ideal untuk pemotretan underwater?
2. Ada anggapan untuk meng-create foto landscape/sceneray underwater menggunakan DSLR. Sebaliknya untuk yang menggunakan pocket cukup berpuas diri dengan makro. Pertanyaan-nya, apakah dalam kursus, yang termasuk TIPS & TRIK di atas, diajarkan juga bagaimana memotret landscape/scenary yang oke dengan menggunakan pocket?
 
cheers
 
 
info siang.....
Sebelum menjawab pertanyaan dibawah, ada sedikit latar belakang.tentang masalah kurikulum pendidikannya
Ada beberapa jenis kurikulum underwater photography:
1. Kurikulum yang dibuat oleh diving agency (PADI, SSI, dsb) yang biasanya berorientasi pada pengenalan dasar yang cukup simple.
2. Kurikulum yang dibuat oleh masing-masing Instrukturnya (certified instructor maupun non-certified instructor), yang dibuat sesuai selera masing-masing "instruktur"nya
3. Kurikulum yang berdasar pada kurikulum diving agency namun di-"elaborate" untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu (biasanya dengan adanya bbrp referensi tambahan)
 
Untuk poin 1 & 3 hanya bisa diajarkan oleh Certified Instructor dari masing-masing agencynya. Walau kurikulumnya sama, namun perlu diingat bahwa latar belakang, pengalaman dan pengetahuan instructornya juga memegang peran sangat penting. Jenis kurikulum semacam ini biasanya lebih terstruktur, dan apabila peserta didik berhasil lulus, akan mendapat sertifkat layaknya sertifikat specialty diving.
Untuk poin 2, bisa dibuat oleh siapa saja dan tidak ada sertifikat seperti layaknya poin 1 dan 3.
 
Jawaban kedua pertanyaan dibawah mengacu pada kurikulum dasar yang dikembangkan oleh diving agency.
 
1.Apakah dalam kursus diajarkan pengenalan secara spesifik jenis-jenis kamera maupun peralatan yang ideal untuk pemotretan underwater?
 
Kamera yang bisa digunakan untuk pemotretan bawah air saat ini sangat banyak sekali, apabila "pengenalan secara spesifik" itu maksudnya pengenalan dari masing2 jenis kamera yang ada di pasar, saya kira hampir tak mungkin, seorang instruktur paling berpengalaman sekalipun tidak akan mencoba seluruh kamera yang ada di pasar. Namun tentunya ada hal-hal mendasar dan persamaan dari tiap2 kamera tersebut yang berguna bagi pemotretan bawah air. Hal spesifik semacam inilah yang mestinya ada dan dibahas lengkap. Sebuah kursus sebaiknya juga dapat menunjukkan berbagai macam kamera (poket maupun dslr) serta tidak terpaku pada satu merk saja (kecuali memang seminarnya disponsori oleh merek tertentu...ini yang sering saya sebut "Prominar" (promosi yang dibungkus seminar)).
 
2. Ada anggapan untuk meng-create foto landscape/sceneray underwater menggunakan DSLR. Sebaliknya untuk yang menggunakan pocket cukup berpuas diri dengan makro. Pertanyaan-nya, apakah dalam kursus, yang termasuk TIPS & TRIK di atas, diajarkan juga bagaimana memotret landscape/scenary yang oke dengan menggunakan pocket?
 
Dalam menggunakan peralatan, yang paling penting kita harus benar2 tahu batasan dari peralatan tersebut (baik poket maupun dslr), pada saat kursus anda akan diajarkan sampai mana batasan-batasan tersebut dan yang paling penting juga bagaimana menghasilkan foto yang optimum dalam batasan peralatan (plus asesorinya, kalo ada) yang dimiliki. Kalau anda menggunakan kamera poket standar (non asesori), memang foto macro (dg objek diam ataupun relatif bergerak lambat) adalah objek yang paling tepat untuk jeprat-jepret. Karena relatif mudah, maka objek macro semacam ini lah yang biasanya pertama di cari. Namun sebenarnya ada banyak juga trik dan tips yang bisa diajarkan di tingkat macro ini sehingga foto bisa lebih maksimal. Untuk kondisi pemotretan tertentu, kamera poket juga dapat menghasilkan foto wide yang lumayan (apalagi kalo poketnya ditambah bbrp asesori), namun memang prosesnya lebih ribet daripada membuat foto macro, hal-hal semacam ini bisa ditanyakan pada saat kursus.
 
demikian info siang...salam
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, March 13, 2008 12:47 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas informasinya. Dari tulisan di bawah ini saya coba ambil kesimpulan bahwa untuk kursus UP bukanlah hal yang percuma dan sia-sia bilamana ingin meningkatkan kualitas dan ketrampilan motret bawah air. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kepada siapa kita berguru. Karena dari uraian di bawah ini terutama point 2, bisa jadi materi dan metode pengajaran masing-masing instruktur akan berbeda, sesuai pengalaman dan ketrampilan-nya.
 
Yang menjadi pertanyaan, seperti seorang instruktur selam yang punya tingkatan tertentu baru bisa ngajar, apakah untuk spesialisasi seorang instruktur wajib punya sertifikasi untuk UP? Sebuah agency yang menawarkan atau membuka program kursus UP, apakah etis bilamana peminat menanyakan lebih dulu apakah sang instruktur punya licence untuk UP....?
 
Sekali lagi thanks banget atas pencerahan-nya.
 
cheers
 
 
tambahan info....
 
".......seorang instruktur selam yang punya tingkatan tertentu baru bisa ngajar, apakah untuk spesialisasi seorang instruktur wajib punya sertifikasi untuk UP?"
 
ada 2 organisasi selam dunia yang selama ini saya ikuti perkembangannya. Keduanya memiliki "policy" yang agak beda dalam sertifikasi UP specialty. Organisasi A mensyaratkan, selama seseorang telah berpengalaman sebagai uw photographer (dibuktikan dengan pernyataan log uw photo activities) dan juga sebagai active instructor, yang bersangkutan diberi pilihan untuk mengajukan aplikasi sebagai Spec UP Spec Inst, atau ybs dapat mengambil kursus kepada seorang UP Specialty Instructor Trainer untuk di latih sebagai UP Spec Instructor. Calon spec Inst ini tidak perlu memiliki sertifikat UP sebelumnya. Dalam proses ini, untuk menjadi cerified uw photography spec inst sebenarnya cukup mudah.
 
Untuk Organisasi B, memiliki syarat tambahan, yaitu: calon UP Spec Instructor juga wajib menunjukkan portfolio foto2 yang pernah dihasilkannya disamping persyaratan yang ada pada organisasi A.
 
"Sebuah agency yang menawarkan atau membuka program kursus UP, apakah etis bilamana peminat menanyakan lebih dulu apakah sang instruktur punya licence untuk UP....?"
 
Saya kira hal itu adalah hal yang wajar saja, sebagai seorang calon murid (atau customer) kita punya hak untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Apalagi kalau kita ingin belajar secara maksimal dan juga mendapat sertifikat, jadi jangan sampai antara yang bertanggungjawab atas pengajaran dan yang mensertifikasi ternyata beda orang. Mungkin ada baiknya kalau kita juga menanyakan portfolio si instructor sehingga kita bisa menilai pengalaman dan "style" uw foto yang menjadi ciri khasnya.
 
demikain tambahan info...

Original Message -----

Sent: Friday, March 14, 2008 12:20 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas pencerahan-nya..... Dari yang tidak tahu menjadi tahu....Dari yang tidak mengerti menjadi lebih mengerti..... Kalau boleh kembali ber-guru nich. Bagi seorang instruktur UP paling tidak punya low UW photo. Tentu-nya dari UW photo bagi yang jeli akan terlihat minat 'n may be speciality dari sang instruktur. Sama seperti fotografer up-water profesional yang disadari atau tidak terspesialisasi secara alami. Ada instruktur yang jago untuk motret model ketimbang landscape demikian juga sebaliknya.
 
Yang menjadi pertanyaan, pertama, ada ngga sich fotografer UW Photo yang disadari atau tidak "ter-spesialisasi" seperti itu? misalnya ada instruktur yang memang jago untuk motret scenary atau sebalik-nya untuk makro.
 
salam

nambah lagi infonya....

.....ada ngga sich fotografer UW Photo yang disadari atau tidak "ter-spesialisasi" seperti itu?....
 
Tentunya ada ya, "spesialisasi" tersebut sangat bergantung pada minat dan latar belakang seseorang. Ada yang suka macro dan terus mengexplorasi macro photo, demikian juga wide, atau bahkan animal behaviour, atau malah ke arah dokumentasi, fashion dan banyak hal lainnya.... Ada juga yang "over all" (yg ini agak jarang).
 
demikian..
 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, March 16, 2008 1:16 PM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Pak Cipto, yang kesekian kali-nya mengucapkan terima kasih atas pencerahan-nya. Bukan maksud "mencuri" ilmu fotografi Pak Cipto lho, hanya ingin mengembangkan wacana umum perihal topik ini yang may be berguna kalau saya ingin melanjutkan diskusi ini.
 
Mengenai speciality, sebagaimana Pak Cipto tulis, "ada juga yang "over all" (yg ini agak jarang)", kalau demikian apakah menjadi kode etik bagi seorang instruktur UWP sebelum start atau masih menginformasikan skill-nya kepada calon siswa untuk meng-sharingkan "speciality"-nya, yang berarti juga disesuaikan minat si calon murid....?
 
Pertanyaan berikut-nya, apakah siswa yang menekuni kursus UWP umum-nya pemain baru atau memang sebelumnya sudah punya basic knowledge 'n aktif motret, terutama untuk UWP? Saya membayangkan dan punya pra-paham mereka yang ambil UWP setidak-nya sudah dan sedang menekuni hobi motret terutama untuk UWP. Alasan-nya, UWP merupakan cabang general photography knowledge, dan juga menjadi speciality dari kegiatan diving.
 
Pengalaman Pak Cipto aja dalam meng-handel siswa-siswa-nya, apakah umum-nya si siswa langsung menekuni bidang UWP yang diminati-nya? ataukah kebanyakan minat siswa masih "general" ? Kalau saya pribadi terus terang aja minat untuk UWP pertama pada landscape/scenery. Cuma berhubung hanya hold pocket kamera, terpaksa masuk ke Makro. Padahal untuk foto up-water sangat jarang saya motret makro. Minat kedua masih di UWP, adalah candid perilaku / ekspresi / gaya our buddy atau diver lain-nya. Tentunya kalau saya memutuskan akan ambil kursus UWP, prioritas akan garap minat pertama tadi. Berharap kepada instruktur bersedia sharingkan bagaimana menggarap nuansa landscape meski hanya kamera pocket.
 
Terima kasih sebelum-nya atas pencerahannya.
 
cheers
 
 
info lagi....
 
perkara "curi mencuri", sayapun banyak men"curi" ilmu dari yang lain kok, bahkan paling enak itu "nyuri" dari murid sendiri..hi..hi..hi
 
apakah menjadi kode etik bagi seorang instruktur UWP sebelum start atau masih menginformasikan skill-nya kepada calon siswa untuk meng-sharingkan "speciality"-nya, yang berarti juga disesuaikan minat si calon murid....?
 
Saya kira tidak perlu seorang instruktur UWP menginformasikan hal ini, seorang instruktur sudah wajib menguasai dengan baik materi pelatihan yang diperlukan untuk melakukan pengajaran sesuai dengan kurikulumnya. Mengenai kecenderungan "spesialisasi" si instruktur sebenarnya lebih banyak pada minat dan pengalaman ybs. Hal ini bisa tercermin dari portfolio ataupun peralatan yang dipergunakannya. Calon siswa dapat menanyakan hal tersebut, namun deklarasi formal sepertinya sih nggak perlu ya. Sebagai contoh, saya punya temen baik bbrp uw fotografer internasional, si A motret segalanya, dari yang kecil sampai yang besar-besar, mulai yg jurnalistik sampai yg art, saya anggap dia cukup "over all", namun sebaliknya temen saya yang satunya si B, foto yg dihasilkan sebagian besar macro, tapi kalo berdiskusi dengan si B tentang pemotretan jenis besar-besar dia juga bisa jadi temen ngobrol yang enak.
 
apakah siswa yang menekuni kursus UWP umum-nya pemain baru atau memang sebelumnya sudah punya basic knowledge 'n aktif motret, terutama untuk UWP?
 
wah, kalo ini variatif ya, ada yg baru ( bahkan belum pernah motret di air), sampai ada juga yg fotonya udah masuk ke buku-buku ilmiah.
 
Saya membayangkan dan punya pra-paham mereka yang ambil UWP setidak-nya sudah dan sedang menekuni hobi motret terutama untuk UWP. Alasan-nya, UWP merupakan cabang general photography knowledge, dan juga menjadi speciality dari kegiatan diving.
 
Saya setuju, yang diperlukan disini adalah minat yg serius. Untuk menjadi UW fotografer handal memang perlu modal keseriusan ini.
 
apakah umum-nya si siswa langsung menekuni bidang UWP yang diminati-nya? ataukah kebanyakan minat siswa masih "general" ?
 
Kalo pengalaman saya, kira2, 50% masih sangat baru tapi punya minat kesitu, 40% dah pada motret, yg 10% udah pada jago motret
 
Disamping adanya kursus underwater foto yang formal, ada juga bentuk-bentuk seminar atau workshop, lha yang seperti ini "kurikulum"nya biasanya lebih fleksibel. Terutama untuk workshop, biasanya interaksi antara peserta dan instrukturnya jauh lebih banyak, dan apabila instrukturnya memang bagus, bahkan bisa diajak tanya jawab utk hal-hal spesifik yang sifatnya "custom made" dan sesuai dengan kebutuhan si penanya.
 
Saran saya, kalo masih ragu-ragu dengan kemampuan teknis dan/atau pengetahuan dasar, sebaiknya ikut kursus formal saja. Sebaliknya kalo dah menguasai teknis dasar dan ingin memperdalam sesuatu hal khusus serta sharing ide, sebaiknya ikut workshop aja. Dan ada juga workshop yang bisa sekalian sertifikasi. Kalo mau belajar sendiri juga nggak apa-apa, asal banyak-banyak motret, banyak baca buku, banyak eksperimen, banyak nanya/diskusi dan tentunya banyak waktu untuk ikut trip...he..he..he
 
begitulah...
 
Terima kasih informasinya Pak Cipt.....Menarik juga kalau ikut
workshop UWP. Walau kendalanya kalau workshop pesertanya cukup ramai
tapi dari sisi biaya lebih terjangkau. Namun untuk latihannya ya
tanpa instruktur ya. Kalau ambil kursus, bisa lebih detail 'n bisa
langsung praktek. Cuma memang biayanya menyesuaikan.....Pada
akhirnya masing-masing punya plus minus-nya.....

cheers
 
 
untuk workshop, bisa aja banyak peserta, bisa juga lebih sedikit, tergantung dari penyelenggaranya. Begitu pula, key note speaker yg membawakan workshop, bisa sangat bervariasi, dari sekedar UW fotografer yg sering motret, celebrity UW fotografer bahkan bisa juga instruktur UW fotografer yg berpengalaman, paling jeli-jeli ngeliat siapa penyelenggaranya (apakah ada batasan peserta atau keroyokan) dan orang yang membawakannya, karena biasanya nggak ada standard kurikulum tertentu yg disampaikan.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help