Kisah perjalanan ke Aceh......, "Diving in the Disaster Area and War Zone"
Pada tanggal 4 Januari 2005 yang lalu, saya menerima telepon dari Metro TV untuk melakukan perjalananke Aceh dengan misi melakukan penyelaman dan pembuatan video tentang sebuah kapal tenggelam di Aceh. Pada waktu itu, tidak banyak informasi yang kami dapatkan, bahkan kami tidak di informasikan tentang jenis kapal, lokasi, dan juga kondisi perairan yang hendak kami selami. Setelah berkoordinasi dengan beberapa teman, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan tersebut. Anggota tim yang berangkat adalah: Arya Subijakto, Tipi Jabrik dan saya.
Pada tanggal 5 Januari, kami berangkat dari Bali dan langsung menuju ke Medan dan bermalam di Medan. Keesokan harinya kami melakukan perjalanan ke Banda Aceh melalui jalan darat sepanjang +/- 600 km. Rencana semula kami akan diterbangkan dari Medan ke Banda Aceh, namun ternyata kami tidak bisa mendapatkan tiket pesawat ke Banda Aceh, sehingga ditempuhlah perjalanan darat.
Keesokan harinya, kami tiba di Banda Aceh pukul 4 dini hari dan langsung menuju posko di Pendopo Gubernuran untuk berkoordinasi dengan Sdr Eddy dari Metro TV. Sampai siang hari kami belum bisa menjumpai Sdr Eddy, karena yang bersangkutan sedang terjebak di daerah Aceh Barat dan belum bisa kembali. Baru sekitar jam 2 siang kami berhasil menjumpai Sdr Eddy. Dari Sdr Eddy-lah kami mendapat informasi mengenai kondisi perairan yang hendak kami selami dan juga kondisi kapal yang setengah tenggelam tersebut. Misi kami adalah melaukan dokumentasi kondisi kapal dan juga mengevakuasi mayat apabila kami berhasil menemukannya.
Pagi hari tanggal 7 Januari, jam 6 pagi kami dipersiapkan untuk menuju lokasi penyelaman. Dengan menumpang helikopter PUMA dari TNI-AU, kami diterjunkan di Lhok Nga. Daerah ini termasuk salah satu daerah konflik di Aceh, bahkan pada tanggal 6 januari (sehari sebelumnya) telah terjadi baku tembak antara TNI dan GAM di Lhok Nga yang merengut nyawa 7 orang GAM, tak jauh dari tempat dimana kami mau melakukan penyelaman. Sebenarnya sebuah pengalaman yang menarik untuk menyelam didaerah seperti itu, kami menyebutnya "Diving in the disaster area and war zone".
Penyelaman pertama dilakukan di sekitar kapal yang setengah tenggelam. Kapal ini terletak di sekitar dermaga di depan pabrik semen Andalas. Visibility di sekitar kapal nyaris "0" (Zero), hanya dengan mengandalkan 2 lampu video, kami berhasil mendapatkan jarak pandang sekitar 30cm. Penyelaman menjadi lebih menantang disebabkan banyaknya patahan besi yang cukup tajam disekitar kami, kami harus sangat berhati-hati supaya kepala kami tidak terkena besi-besi tersebut, terlebih pada waktu itu ada sedikit arus. Kami tidak dapat melakukan orientasi visual dikarenakan visibility yang sangat parah, selama menyelam, kami menyusuri kapal dengan cara berpegangan pada bagian2 kapal. Total penyelaman selama kira2 1 jam, namun kami tidak berhasil mendapatkan mayat.
Penyelaman ke 2 kami lakukan tepat didepan kota Lhok Nga. Daerah ini terkenal dengan ombaknya yang sangat indah. Tempat ini adalah surga bagi para peselancar. Penyelaman kami lakukan untuk mengetahui kondisi terumbu karang dilokasi ini. Menurut para peselancar lokal, mereka sebelumnya sering berselancar disini dan menjumpai terumbu karang yang cukup indah. Kami ingin tahu bagaimana kondisi terumbu karangnya setelah Tsunami. Didalam penyelaman ini kami jumpai visibility yang tidak kalah jeleknya dibanding penyelaman pertama, visibility benar2 "0" (zero), pada kedalaman 5 m, hampir saja saya menabrak terumbu karang, karena semuanya gelap, untungnya kami sempat "ngerem" kira2 20cm sebelum muka kami menghantam terumbu karang. "Surge" ditempat ini juga cukup kuat, hal ini mempersulit pengambilan gambar. Dibawah air kami jumpai karang-karang yang rusak (rubble) dengan sedimentasi yang sangat parah, seakan-akan kami menyelam di dalam lumpur (silt). Rubble yang kami jumpai merupakan rubble lama, artinya sebelum terjadinya Tsunami, didaerah ini telah terjadi kerusakan karang yang cukup parah. Pada kedalaman yang lebih dangkal kami jumpai terumbu karang dalam keadaan yang lebih baik. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat kami simpulkan bahwa pada saat terjadi Tsunami, ketinggian ombak Tsunami itu sangat tinggi dan tidak menimbulkan "Surf Break" di daerah terumbu karang. "Surf Break" ini terjadi di daratan dan kemudian menimbulkan arus balik yang sangat kuat dengan membawa semua yang ada didaratan termasuk mengakibatkan pengikisan daratan yang parah, sehingga terjadi sedimentasi yang parah.
Perjalanan ke P. Simeulue......Aceh....Pulau terdekat dengan Epicentrum Tsunami di Aceh (+/- 42km dari Epicentrum)
Perjalanan ke Aceh yang ke dua dimulai Jum'at malam tanggal 14 Januari 2005. Kali ini kami dihubungi oleh sebuah majalah terkenal dari Perancis (Paris Match). Misi kami kali ini adalah mendokumentasikan kondisi dibawah air P. Simeulue. Jum'at malam itu kami terbang ke Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Medan keesokan harinya. Kali ini tim kami terdiri dari Michael Sjukri, Prastiyono dan saya. Sejak awal kami diminta untuk menyiapkan semua perbekalan sendiri d seluruh sarana penyelaman termasuk kompresor, alhasil kami terbang dengan 230 kg peralatan yang harus kami bawa.
Perjalanan dari Jakarta ke Medan lancar2 saja. Sesampai di Medan kami berjumpa dengan Elisa Haberer, seorang wartawan Perancis yang menyertai kami dalam perjalanan ini. Dari Medan kami diterbangkan dengan pesawat SMAC langsung ke P. Simeulue. Sesampai di P. Simeulue, kami menginap di sebuah "surf camp" milik seorang Australia. Kondisi secara umum di P. Simeulue relatif baik2 saja dibandingkan kondisi di Banda Aceh dan Aceh Barat. Daerah yang cukup parah dihajar Tsunami adalah didaerah Simeulue Timur.
engan
Pagi hari tanggal 16 Januari kami menyewa sebuah kapal nelayan untuk melakukan perjalanan ke arah Simeulue Timur. Kapal nelayan yang kami sewa ternyata sangat lambat jalannya. Perjalanan ke daerah Simeulue Timur (Kampung Air) memakan waktu kurang lebih 5 jam. Kami sempat melihat kondisi terumbu karang di P. Tepa tak jauh dari tepi pantai tempat kami menginap. Sepintas lalu kondisinya tidak terlihat kerusakan yang menyolok. Kami berharap dapat menyaksikan kondisi alam yang lebih dramatis didaerah Simeulue Timur. Di lepas pantai Kampung Air, kami melakukan penyelaman pertama. Dalam penyelaman ini kami menjumpai dearah pasir yang tidak dalam (10m) dengan visibility yang kurang bagus (2m-an). Selain itu kami tidak menjumpai apa-apa.
Penyelaman berikutnya kami lakukan didaerah P. Simeulue Cut bagian timur, yang terletak di sebelah barat Kampung Air. Daerah karangnya cukup bagus, visibility mencapai 10-15m. Tidak banyak kerusakan yang kami jumpai, walaupun ada, hanya sebagian kecil dimana kami sempat mendokumentasikan beberapa karang meja yang terbalik dan retakan di antara karang. Kemungkinan retaknya karang dan terbaliknya karang meja itu disebabkan kerena gempa dan tsunami, selain dari itu, kerusakannya hampir tidak ada.
Dari lokasi penyelaman ke 2, kami melakukan perjalanan mengelilingi P. Simeulue Cut bagian barat. Didaerah ini, terdapat hamparan ombak yang sangat indah, dan dibawahnya terdapat "coral barrier" yang sangat panjang. Kami memutuskan untuk melakukan penyelaman di daerah ini. Yang kami jumpai sangat luar biasa, tutupan karang didaerah ini hampir bisa dikatakan sempurna, hampir 100%. Sebuah fenomena langka yang kami jumpai di Indonesia, dan dari semuanya, kami hanya menjumpai beberapa karang meja yang terbalik dan beberapa batang pohon kelapa yang terseret Tsunami sampai kedalaman 30m-an. Visibility....luar biasa, berkisar 30m-an, bahkan secara verikal, dari kedalaman 36m, kami dapat melihat permukaan air dengan jelas. Hanya saja ikan2nya sangat sedikit......("..kemana aja ya..?? kali ikut mengungsi....)
Sebuah kondisi yang sangat kontras dengan yang kami jumpai di Lhok Nga. Mengapa sebuah daerah yang demikian dekat dengan pusat gempa, dapat di buktikan hampir tidak ada kerusakan di daerah terumbu karangnya, walaupun dipantainya terjadi kerusakan, namun kerusakan itu tidak seberapa dibandingkan yang terjadi di Lhok Nga atau Banda Aceh? Kesimpulan sementara kami, gempa yang terjadi menimbulkan gelombang yang sangat tinggi dan menyebabkan terjadinya daerah "Surf Break" di daerah sekitar pantai dan daratan. Didaerah dimana terdapat terumbu karang yang baik, terumbu karang itu telah meredam sebagian energi Tsunami sehingga tidak menyebabkan terjadinya kerusakan yang sangat fatal. Semakin luas terumbu karang di sekitar pantai tersebut, semakin kecil akibat Tsunami itu di daratan. Mestinya masih ada faktor2 lain juga yang menyebabkan fenomena tersebut........
Tentunya kesimpulan sementara itu masih sangat "dangkal", namun diharapkan bisa menggelitik para ahli untuk segera meneliti hubungan dan fenomena alam ini. Apabila ternyata kesimpulan diatas itu benar, artinya ini membuktikan secara nyata bahwa terumbu karang memang sangat berguna bagi kelangsungan hidup umat manusia.......semoga kejadian di Aceh dan Sumut menyadarkan kita untuk lebih bersahabat dengan alam.....semoga.....