Cipto Aji Gunawan - Marine Eco Tourism Development Consultant - PADI (Professional Association of Diving Instructors) Master Instructor and Course Director - Underwater Photo - Video Production & Training.... "Serving the Diving Industry since 1992"

Cipto's posts with tag: aceh post tsunami

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aceh post tsunami

Expedisi Penelitian Terumbu Karang Paska Tsunami, Bagian Barat Sumatera – Aceh

17 – 31 Oktober 2005

 

16/10/05

Perjalanan dari Medan menuju Sibolga kami lakukan dengan menumpang pesawat merpati. Perjalanan yang lamanya 40 menit tidak dirasa lama, sedikit senda gurau sambil menikmati pemandangan dari luar pesawat rasanya belum terpuaskan dan kami sudah harus mendarata di bandara Minangsori – Sibolga.

 

Dari bandara Minangsori, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan carteran menuju pusat kota sibolga dimana kami akan menginap. Setibanya dihotel, perencanaan perjalanan segera kami lakukan. Letak hotel yang ditepi pantai memudahkan kami melakukan pengaturan logistic.

 

Sore harinya dilakukan general briefing bagi seluruh anggota team. General briefing ini dilakukan oleh Dr Gregor Hugdson sebagai Direktur Reef Check Internasional yang berperan sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan. Tujuan penelitian, serta rencana penelitian serta metoda penelitian di diskusikan bersama seluruh anggota team. Perjalananan ini merupakan perjalanan pertama yang melakukan penelitaian sepanjang pulau besar bagian barat Sumatra guna melihat dampak terumbu karang akibat tsunami dan gempa yang menimpa Nias beberapa bulan yang lalu. Adapun beberapa penelitian lain yang telah dilakukan dibeberapa pulau sepanjang pantai barat menjadi bahan referensi sehingga penelitian ini bisa lebih akurat dan tidak perlu mengulangi penelitian yang telah dilakukan pada site2 sebelumnya.

 

17/10/05

Hari ini seluruh anggota team akan melakukan latihan bersama untuk menyesuaikan dan menyamakan cara pandang didalam penerapan metoda penelitian. Direncanakan penyesuaian ini kami lakukan di pulau sekitar sibolga.

 

Setelah menyelesaikan administrasi pelabuhan, pada pukul 12:30 seluruh anggota team tiba di kapal Mermaid Equator. Kapal ini adalah sebuah kapal wisata yang kami charter dan kami lengkapi dengan peralatan selam sehingga dapat digunakan untuk melakukan penelitian yang banyak berhubungan dengan kegiatan penyelaman.

 

Bulan-bulan oktober ini hujan sudah banyak mngguyur daerah sebelah barat pantai Sumatra, dan hal tersebut sangat mempengaruhi kondisi perairan, khususnya jarak pandang. Karena jarak pandang yang sangat terbatas di sekitar teluk Sibolga, terpaksa kapal kami arahkan ke P. Mursala yang berjarak kurang lebih 15 mil laut dari Sibolga.

 

Mendekati P. Mursala kondisi perairan masih cukup mengkhawatirkan, air laut terlihat berwarna hijau. Hal ini disebabkan karena tingginya curah hujan yang mengakibatkan pertumbuhan plankton yang luar biasa dan menyebabkan jarak pandang menjadi sangat pendek. Sepertinya sedikit keberuntungan masih berpihak kepada team. Sekitar 200 m dari bibir pantai sebelah utara P. Mursala, kondisi agak membaik. Walaupun kami tidak dapat melakukan percobaan metoda transek, namun kami tetap dapat melakukan penelitaian dengan metoda manta tow. Metoda ini memang sering digunakan terutama untuk melakukan pemantauana pada sebuah area yang luas. Seorang peneliti berpegangan pada sebuah papan yang disebut Manta Tow Board, dan papan diikatkan pada sebuah tali yang panjangnya 17 meter, tali ditarik oleh sebuah perahu kecil dengan kecepatan 2-3 knot selama 3 menit. Dengan mengenakan masker dan snorkel, si peneliti dapat melihat kondisi terumbu karang yang ada di bawahnya, tergantung dari kondisi jarak pandang perairan, si peneliti akan mencatat beberapa indicator terumbu karang termasuk adanya paparan karang hidup, karang mati, lumpur, pasir, batuan, serta adanya patahan karang. Data2 tersebut akan dicatat. Setelah 3 menit, penelitian dilanjutkan untuk segmen terumbu karang berikutnya demikian seterusnya. Setiap titik2 penelitian dicatat menggunakan peralatan GPS sehingga dapat di ketahui koordinat terumbu karang yang diteliti.

 

Setelah seluruh anggota team mencoba metoda manta tow, kami kembali ke sibolga.

 

Malam harinya hasil kalibrasi metoda manta tow yang dilakukan kembali didiskusikan. Juga dibahas tentang rencana dan rute penelitaian yang akan dilakukan pada keesokan hari. Peta pantai barat Sumatra di paparkan dan menjadi bahan referensi utama untuk menentukan lokasi penelitian.

 

18/10/05

Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, makan sahur sudah disiapkan. Anggota team yang menjalankan ibadah puasa telah bersiap2 untuk mengisi perut sebagai bekal seharian berpuasa. Kapten kapal pun telah memerintahkan ABK-nya untuk menarik jangkar. Team berangkat menuju P. Karang yang terletak disebelah utara Sibolga. Laut yang tenang menjadikan perjalanan ini sangat relax, sebagian anggota team melanjutkan tidurnya dan berharap untuk bangun dengan kondisi lebih segar pada saat kami sampai di P. Karang.

 

Jam 7 pagi, kapal membuang jangkar di sebelah timur Pulau Karang. Team bersiap-siap untuk melakukan penelitian di sebelah barat pulau. Telihat beberapa gulungan ombak di sisi barat yang menunjukkan adanya gugusan terumbu karang disitu. Penelitian pertama dilakukan dengan metoda manta tow, hasil manta tow akan menentukan beberapa lokasi yang layak diteliti lebih lanjut dengan metoda transek reef check plus.

 

Akhirnya didapat sebuah lokasi yang cukup menarik, walaupun jarak pandang perairan sangat terbatas (2-3 meter), karena kondisi ini, pendokumentasian menggunakan peralatan video tidak kami lakukan. 2 group penyelam segera mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan termasuk meteran sepanjang 100m serta papan catatan bawah air. Pengamatan dan pencatatan dilakukan pada kedalaman 3 m dan 10 m. Group pertama yang beranggotakan 2 orang peneliti yaitu Yul dan Annelise melakukan pengamatan dan pencatatan di kedalaman 3 meter, sedangkan Nishan dan Ivan mencatat di kedalaman 10m. Dari hasil pengamatan dan penelitian di lokasi ini disimpulkan tidak adanya pengaruh yang cukup siknifikan sebagai akibat dari tsunami maupun gempa. Kondisi terumbu karang masih cukup bagus, sebagian daerah mengalami kerusakan yang diperkirakan akibat jangkar. Ikan2 indikator Reef Check diantaranya ikan kakak tua dan kepe-kepe cukup banyak. Tutupan terumbu karang juga dikatagorikan cukup bagus sekitar 70%-80% dengan tingkat sedimentasi yang rendah. Hanya disayangkan kondisi perairan cukup jelek sehingga jarak pandang sangat terbatas, hal itu sangat mempengaruhi pengamatan pada area yang lebih luas.

 

Menjelang sore hari, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju Kepulauan Banyak yang terletak disebelah utara P. Karang. Perjalanan menjelang senja kami tempuh dengan harapan pagi harinya kami telah tiba di Kep Banyak.

 

8 jam kemudian kami tiba di P. Bangkaru, sebuah pulau paling timur dari Kep Banyak. Kamimenghabiskan malam panjang di derah sebelah selatan P. Bangkaru, angina dan hujan yang turun memaksa kami untuk mencari tempat berlindung yang aman.

 

19/10/05

Jam menunjukkan pukul 7 pagi dan seluruh anggota team sudah bersiap-siap untuk melakukan penelitian. Kapal diarahkan ke sebelah utara P. Bangkaru. Angin cukup kencang dan hujan rintik-rintik menyertai cuaca yang mendung.

 

Kali ini team dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok pertama akan melakukan metode survey Manta Tow dan dua team berikutnya melakukan penyelaman dan pengamatan dengan metode Reef Check Transek Plus. Team Manta Tow berangkat terlebih dahulu ke titik tujuan survey, 1 jam kemudian team manta tow menginformasikan melalui radio bahwa terdapat sebuah daerah yang layak untuk di teliti lebih lanjut, dan tema transek-pun bergerak menuju tujuan yang telah ditandai oleh team manta tow.

 

Lokasi titik penyelaman ini terdapat di sebelah utara P. Bangkaru, daerah yang berhadapan langsung dengan arah datangnya ombak pada saat tsunami waktu itu. Kedalaman transek ditetapkan 3 meter dan 10 meter. Team transek 3 meter segera menuju kedalaman tersebut dan diikuti team transek 10 meter yang segera menjelajahi terumbu karang di kedalaman 10 meter. Transek line di bentangkan sepanjang 100 meter menyusuri kedalaman yang telah ditetapkan. Masing2 team segera melakukan pencatatan terhadap terumbu karang dan ikan-ikan indicator yang dijumpai. Setiap jarak 0,5 m akan dilakukan pencatatan terumbu karang dan ikan yang dijumpai. Pencatatan ini mengikuti metoda identifikasi indicator ikan maupun karang yang menjadi standar Reef Check Plus.

 

 Tutupan terumbu karang di daerah ini cukup bagus, seluruhnya hampir terdapat 70% luasan karang hidup, walaupun juga di sertai bekas2 kerusakan, diantaranya robohnya beberapa karang meja, baik yang mengindikasikan kerusakan yang belum lama terjadi maupun yang telah lama. Indikasi robohnya beberapa karang meja ini sulit di simpulkan sebagai akibat dampak langsung dari tsunami, bisa saja karang meja yang roboh sudah lama adalah akibat tsunami, namun karang meja dengan indikasi kerusakan baru tidak dapat disimpulkan demikian. Disamping karang-karang yang relative masih sangat bagus tersebut, team juga menjumpai kerusakan yang agak parah dengan dugaan sebagai akibat dari pengeboman. Kerusakan akibat pengeboman ini dapat segera dibedakan dengan kerusakan akibat hal lainnya dengan ditandainya lokasi yang terisolir dari akibat bom yang membentuk daerah bercak-bercak rusak diantara karang yang masih sehat. Ikan-ikan yang banyak dijumpai adalah dari jenis Kepe-kepe dan botana biru, beberapa kerapu dengan ukuran sekitar 30 cm juga mondar mandir diantara karang. Sempat pula melintas serombongan surgeon fish yang bergerombol mencari makan.

 

Tak terasa hampir 1 jam kami melakukan pengamatan dan pencatatan. Sesampainya kembali team transek dikapal, team manta tow kembali menghubungi team transek dan menginformasikan bahwa terdapat sebuah lokasi tak jauh dari lokasi pertama yang perlu di lakukan pengamatan. Team transek pun segera bersiap-siap menuju ke lokasi kedua. Lokasi kedua ini terdapat di sebelah utara dari lokasi pertama.

 

Team transek mengulangi kembali metoda pengamatan seperti pada penyelaman pertama. Namun kali ini yang dijumpai agaknya berbeda dengan pengamatan pada titik penyelaman sebelumnya. Didaerah ini dijumpai cukup banyak kerusakan terutama di kedalaman 10m kebawah. Terdapat hamparan karang yang rusak cukup parah dan meliputi daerah yang cukup luas, dikedalaman sekitar 3 meter hal tersebut tidak dijumpai, namun dijumpai adanya gejala pemutihan karang yang artinya karang tersebut sudah hanpir mati, hal itu biasanya disebabkan karena suhu air meningkat dalam waktu yang cukup lama, namun bisa juga karena hal lain. Kesimpulan sementara menunujukkan bahwa kerusakan itu tidak disebabkan olah dampak tsunami namun diduga disebabkan oleh praktek penagkapan ikan menggunakan trawl. Metoda ini sebenarnya dilarang di Indonesia pada umumnya. Metoda penangkapan seperti ini telah menghancurkan terumbu karang di Indonesia dan aibatnyapun sangat fatal.

 

Setelah melakukan penyelaman ke 2, kami berinisistif mendekati P. Bangkaru. Dari kejauhan kami menyaksikan pemandangan yang tidak biasa, kami melihat gugusan terumbu karang yang muncul dari permukaan air dekat dengan pantai. Setiba dipantai, kami menjelajahi daerah sepanjang pantai utara dan kamipun menjumpai banyaknya gugusan karang yang muncul di permukaan. Kami menarik kesimpulan bahwa daratan di P. Bangkaru telah terangkat sebagai akibat langsung dari timbulnya gempa. Karang-karang tanduk dan karang “porites” yang habitatnya di dalam laut terangkat keluar permukaan laut. Diantara karang “porites” yang terangkat tersebut dapat pula dijumpai beberapa anakan kima yang masih menyatu dengan karang “porites” tersebut. Kima-kima yang masih kecil memang biasa menyatukan diri dengan karang “porites”, dan terus akan berada di situ sampai menjadi agak besar. Hanya kima dewasalah yang kemudian meningggalkan karang induk semangnya tersebut dan hidup terpisah. Kima ini tidak dapat hidup dipermukaan laut. Melihat garis pantai yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa daratan di sebelah utara P. Bangkaru tersebut telah terangkat sekitar 0,5 sampai 1 meter.

 

Menjelang sore hari angin bertiup dengan kencang, ombak pun mempermainkan kami yang hendak kembali ke kapal besar. Kapal kecil kami harus berjalan dengan perlahan-lahan apabila tidak ingin terbalik. Setelah berjuang melewati ombak dan angina yang makin besar akhirnya seluruh team kembali dengan selamat ke kapal besar.

 

Karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat, kami terpaksa menunda seluruh kegiatan penelitaian pada hari itu.

 

Sore harinya kapal besar harus mencari daerah aman untuk melewati malam. Semalaman kami diombang-ambingkan ombak dan juga diterpa angin dan hujan.

 

20/10/05

Sejak semalam sampai pukul 10 pagi, hujan dan angin masih saja mempermainkan kami. Kapalpun diarahkan kedaerah dimana hempasan ombak dan angin tidak terlalu besar, namun rupanya hampir diseluruh kawasan Kep Banyak  di hantam angina dan ombak yang cukup besar. Akhirnya menjelang siang kami sampai di P.Bale, sebuah pulau pusat kecamatan dari Kep Banyak, termasuk wilayah Kab Singkil, NAD.

 

Menjejakan kaki di P. Bale, team menjumpai hal yang sangat menarik. Apabila di P.Bangkaru team menjumpai tanda2 naiknya daratan, di P. Bale yang hanya berjarak kurang lebih 10 mil sebelah barat P. Bangkaru ini kami menjumpai tanda2 tenggelamnya daratan. Masuknya air laut ke darat ini telah terjadi sejak terjadinya Tsunami dan hal tersebut diperparah setelah terjadinya gempa yang melanda nias pada bulan maret yang lalu.

 

Menjelang laut pasang, perlahan-lahan daratan mulai digenangi air. Air laut yang naik tersebut menutupi seluruh daerah pantai sampai sejauh hampir 100 meter kedarat. Terlihat banyak rumah2 penduduk yang terletak dipinggir pantai telah ditinggalkan penghuninya, mereka menyingkir dari daerah ganangan dan membangun pondok2 di daerah yang tidak tergenang.

 

Melihat fenomena yang menarik ini, team menyimpulkan bahwa P. Bengkaru dan P. Bale di topang oleh lempengan samudra yang berbeda. Lempengan inilah yang langsung dipengaruhi gempa pada saat itu sehingga terjadi pergeseran.

 

Tak jauh dari P. Bale kami melakukan pengamatan di bawah air. Karena hari sudah sore dan mendung, pengamatan hanya dilakukan dengan membuat dokumentasi video. Kali ini pemandangan yang kami jumpai sangat berbeda dibandingkan lokasi lain yang telah kami amati. Dikedalaman sekitar 10 meter bertebaran gugusan2 karang yang terguling dan berserakan. Sebagian telah mati, sedangkan sebagian lain menunjukkan adanya pertumbuhan baru dari karang yang belum seluruhnya mati. Disini pula kami jumpai jenis bintang laut pemakan karang, yaitu Crown of Torn atau biasa juga di sebut bulu seribu. Duri2nya sangat beracun. Kami juga menjumpai ikan pari yang beristirahat di bawah karang. Juga beberapa bekas pohon kelapa yang tumbang kami jumpai melintang disekitar karang. Indikasi ini menunjukkan akibat dari adanya gelombang ataupun badai yang cukup besar yang pernah melanda tempat ini. Kesimpulan awal hal ini disebabkan karena gelombang tsunami yang melanda tempat ini akhir tahun yang lalu. Untuk memastikan hal ini, masih harus diperkuat dengan pengamatan di pulau-pulau sekitarnya.

 

21/10/05

Sejak pagi hujan mengguyur dengan derasnya. Beberapa pengamatan yang telah direncanakan tidak dapat dilakukan karena cuaca yang jelek. Seharian kami membuat perencanaan dan melakukan pencatatan data2 yang telah diperoleh sebelumnya.

 

22/10/05

Cuaca tidaklah membaik hari ini, badai dikejauhan menyebabkan perencanaan yang telah dibuat menjadi sulit untuk dilaksanakan. Menjelang siang kami putuskan untuk kembali ke daratan besar Sumatra. Sore harinya kami tiba di daerah Ujung Raja dan kami putuskan untuk membuang sauh dan bermalam dilepas pantai Ujung Raja

 

23/10/05

Dini hari sekitar jam 3 pagi kami berangkat ke Meulaboh. Sekitar 10 jam perjalanan kami tempuh dengan kondisi angina keras dan gelombang tinggi. Kapal kami yang panjangnya 27 meter ini terombang ambing dipermainkan gelombang. Hujan rintik2 menyertai perjalanan. Ditengah perjalanan, tiba2 kami dikejutkan dengan munculnya sebuah sirip dipermukaan air, seekor ikan paus jenis humpback tiba2 muncul di sisi sebelah kiri kapal. Segera kamera disiapkan untuk merekam kejadian yang sangat langka ini. Hanya beberapa menit ikan paus ini bersama kami, tak lama kemudian, dengan gerakan ekornya yang khas, ikan itu menyelam kembali ke kedalaman.

Menjelang siang kami tiba di Meulaboh. Kota Meulaboh yang waktu itu diluluh lantakan oleh gelombang Tsunami tengah berbenah dengan terlihatnya bangunan2 yang baru dibangun. Pasar meulaboh pun terlihat cukup ramai. Penelitian yang kami rencanakan di Meulaboh kembali harus dibatalkan. Perairan yang sangat keruh tidak memungkinkan kami untuk melakukan metode penelitaian guna mengumpulkan data. Walaupun telah dicoba untuk melakukan pengamatan di sekitar Ujung Tuba yang jaraknya sekitar 10 mil sebelah utara Meulaboh, namun keadaan perairan yang jelek tidak memungkinkan kami untuk melakukan penelitian.

 

24/10/05

Menjelang subuh kembali kapal melanjutkan perjalanan ke utara, kali ini kami merencanakan untuk singgah Calang. Menjelang pagi kami tiba di Calang. Kondisi cuacapun tidak membaik bahkan hujan dan gelombang bertambah parah. Perjalanan kami lanjutkan ke arah Banda Aceh dengan tujuan berikutnya adalah P. Raya di lepas pantai Lhokruei. Siang hari kami tiba di P. Raya, hujan masih mengguyur kami. Kembali penelitian hari ini tidak dapat kami lakukan karena cuaca dan jarak pandang dibawah air yang kurang dari 1 m. Untuk menghindari badai, malam ini kami berteduh di sebelah selatan P. Raya.

 

25/10/05

Peta hydros kami bentangkan, sudah 4 hari kami tidak berhasil mengamati terumbu karang di sekitar pantai barat pulau besar Sumatra. Kondisi yang jelek ditambah tingkat kejernihan air yang parah, kami tidak berhasil menemukan terumbu karang. Sebagian dari peta Hydros yang kami miliki memang menunjukkan adanya beberapa lokasi dengan terumbu karang, namun dengan kondisi perairan paska tsunami yang secara terus menerus membuat tingkat sediment yang demikian tinggi, terumbu karang yang ada diragukan lagi keberadaannya.

 

Kami putuskan untuk langsung menuju ke P. Nasi disebelah barat P. Weh. Menurut peta hydros yang kami miliki tentunya akan kami jumpai gugusan terumbu karang disekitar pulau tersebut.

 

Menjelang siang kami tiba di sebelah timur P.Nasi. Segera tim Manta Tow diturunkan untuk segera melakukan pengamatan. Kondisi perairan dan jarak pandang dibawah air cukup lumayan, mencapai sekitar 5m. Hampir sekitar 2 jam tim manta tow melakukan pengamatan, namun ternyata disebelah timur P. Nasi ini hanya terdapat gugusan batuan yang sedikit ditumbuhi terumbu karang, hanya disekitar telk P. Nasi tim menemukan sedikit tutupan terumbu karang yang kondisinya sudah cukup berantakan.

 

Tim transek dan crew expedition segera bersiap2 untuk meneliti lebih lanjut daerah “rubble” disekitar teluk P. Nasi. Dikedalaman sekitar 6 meter segera dijumpai beberapa gugusan karang yang cukup besar, terbalik dengan posisi dasar karang tercabut. Pechan karang kami temukan dimana-mana. Beberapa ikan2 jenis butterfly, lion fish dan juga seekor kerapu dapat kami jumpai. Disebagian karang “porites” yang masih hidup ditemukan pula beberapa “christmas tree” yang berwarna warni. Namun secara keseluruhan, tim menyimpulkan bahwa kondisi ini tentunya disebabkan karena adanya peristiwa alam yang luar biasa sebelumnya, apakah ini ditimbulkan oleh Tsunami? Kesimpulan itu bisa saja ditarik mengingat pertumbuhan karang yang ada disekitar lokasi banyak dijumpai karang2 baru, namun juga dijumpai karang2 roboh yang diduga kerusakannya telah terjadi sebelum timbulnya tsunami. Amat wajar apabila sebelum terjadinya tsunami, terumbu karang didaerah ini sudah mengalami pengrusakan yang cukup parah sehingga membuat kedudukan terumbu karang menjadi lemah dan dengan adanya Tsunami, mudahlah terumbu karang itu mengalami kerusakan yang lebih parah.

 

26/10/05

Pagi hari kami lanjutkan dengan sedikit pengamatan disekitar P. Nasi sebelah barat, dengan harapan menemukan terumbu karang yang diindikasikan oleh peta Hydros. Namun kembali tim manta tow hanya menemukan gugusan batuan yang tidak jauh bedanya dengan bagian timur P. Nasi.

 

Perjalananpun segera kami lanjutkan menuju P. Brueurok, disebelah selatan P.Nasi. Sore ini kami harus tiba di pelabuhan Malahayati karena 2 orang rekan kami harus menyudahi penelitian ini dan kembali ke Banda Aceh. Waktu penelitian sudah semakin sedikit, masih terdapat beberapa lokasi lainnya yang perlu kami teliti, dimana diantaranya tim berniat untuk melakukan pengamatan di P. Rondo, sebuah pulau terluar di sebelah barat wilayah Republik Indonesia.

 

P. Brueurok adalah sebuah pulau karang kecil yang diatasnya terdapat sebuah mercusuar. Kapal besar kami berlabuh tak jauh dari P. Brueurok. Dengan perahu karet, kami menggelilingi pulau dan akhirnya diputuskan untuk melakukan penelitian di sebelah barat mercusuar.

 

Gelombang cukup besar pada saat kami bersiap2 untuk menyelam. Pada kedalaman 3 meter dijumpai gugusan baruan dengan arus bolak balik yang cukup kuat. Dikedalaman ini kami tidak menjumpai banyak terumbu karang, batu bertumpuk-tumpuk dimana-mana, sebagian terumbu karang yang ada dalam keadaan terbalik, kemungkinan besar disebabkan oleh tsunami. Transekpun segera di bentangkan. Disekitar transek ternyata cukup banyak dijumpai berbagai jenis ikan, diantaranya adalah botana biru dan beberapa jenis ikan butterfly. Tiba-tiba arus bertambah keras dan jarak pandang di  bawah air juga berkurang, kami hanya dapat melihat sekitar 7-8 meter dibawah air. Transek berikutnya dibentangkan pada kedalaman 10 meter, kondisi gugusan batuan di tempat inipun tidak terlalu jauh berbeda, tidak banyak dijumpai terumbu karang, namun terumbu karang yang terbalik tidaklah sebanyak di kedalaman 3m. Dikedalaman ini dijumpai beberapa gerombolan ikan “red tooth trigger”, tubuhnya kehitam-hitaman dengan ekor bersemburat warna biru. Ikan ini suka berlindung disela-sela batuan. Disamping gerombolan trigger tersebut juga dijumpai ikan-ikan jenis “Anthias” yang berwarna cerah merah dan jingga, sangat indah…ikan ini juga hidup disela2 batuan. Anthias suka sekali berenang disekitar karang tanduk dan batuan, bagi penyelam gerakan berenang ikan ini dapat menjadi indikasi kuatnya arus, semakin tinggi ikan2 ini menjauhi karang berarti arus tidaklah begitu kuat, apabila ikan2 ini berenang dekat dengan “rumahnya” berarti arus makin kuat. Disamping itu banyak pula dijumpai ikan kerapu, “angelfish” dan bahkan moray ell. Seluruh hal ini menunjukkan bahwa perairan ini cukup kaya. Tsunami hanya berdampak pada gugusan karang di tempat dangkal dan tidak berdampak secara nyata pada kehidupan ikan.

 

Malam harinya kami bermalam di dermaga Malahayati.

 

27/10/05

Jam 7 pagi tim bersiap-siap untuk melakukan pengamatan di daerah sebalah timur pelabuhan Malahayati yaitu di sekitar Ujung Bate sampai Ujung Batu Kapal. Survey dimulai di daerah Ujung Bate, dengan manta tow kami menjelajah daerah hampir sejauh 10 km. Dibeberapa tempat terlihat dampak tsunami yang cukup parah. Karang2 meja terbalik berserakan dikedalaman sekitar 4-5 meter, tidak terlalu banyak ikan yang kami lihat. Jarak pandang dibawah air juga sangat terbatas, sedimentasi di beberapa tempat cukup tinggi dan ini salah satu penyebab kondisi jarak pandang yang efektif hanya sekitar 5 m. Daratan di sekitar pantai tidak terlihat adanya dampak tsunami yang parah, agaknya terumbu karang yang ada di sekitar daerah itu telah berperan penting dalam proses meredam energi tsunami sehingga tidak terlalu berdampak kepada daratan. Didalam penyelaman ini kami dikejutkan dengan kemunculan segerombolan ikan “bumphead parrotfish”, ikan2 ini ukurannya cukup besar, dapat mencapai 1m atau lebih, mereka sedang berpesta memakan terumbu karang. Kameraman kami mencoba untuk mendekati mereka, namun tampaknya gerombolan ini tidaklah terbiasa mendengar suara gelembung penyelam, merekapun menjauh. Kejutan berikutnya adalah adanya seekor dugong yang tiba2 melintas disebelah kiri, namun sangat disayangkan, jarak pandang yang terbatas hanya memungkinkan kami mengamati mamalia ini secara samar2, dengan gerakan ekornya yang kuat, mamalia ini meninggalkan kami.

 

Kami cukup puas dengan hasil pengamatan kami, akhirnya setelah hampir 2 minggu kami melakukan pengamatan, akhirnya kami dapat menyaksikan dan mendapatkan data akibat tsunami pada terumbu karang di daratan besar Sumatra. Dibandingkan wilayah lain di daratan besar Aceh, wilayah ini tidak mengalami kerusakan yang parah, terumbu karang disekitarnya diduga masih cukup baik pada saat tsunami terjadi, terumbu karang ini secara nyata telah memerankan fungsi perlindungan daratan dengan sangat baik. Diantara terumbu karang yang rusak, kami juga menjumpai terumbua karang yang masih kokoh berdiri dan juga tumbuhan baru. Perkiraan kami, apabila tidak ada kejadian alam luar biasa dalam waktu beberapa tahun kedepan, terumbu karang ini akan pulih dengan sendirinya. Kekhawatiran kami apabila terjadi pengrusakan oleh tangan2 manusia, terumbu karang yang masih tersisa ini tidak akan dapat bertahan, dan dengan demikian fungsi perlindungan pantai dan daratan yang diberikannya juga akan hilang.

 

Malam harinya kami berlabuh di pelabuhan Sabang dan bermalam disana.

 

28/10/05

Pagi hari ini kami diharuskan melakukan pelaporan kepada aparat keamanan setempat. Sebenarnya malam sebelumnya kami telah melakukan pelaporan, namun ternyata laporan kami dirasa tidak cukup. Didalam surat ijin penelitian yang kami miliki, kami di minta untuk melakukan pelaporan dengan menunujukkan surat tersebut, namun ternyata menurut aparat setempat, hal itu tidak cukup, kami harus melapor dengan mengajukan surat resmi dengan kop surat dan cap yang sah.

 

Rencana perjalanan yang seharusnya berangkat pada dini hari terpaksa di tunda menunggu dibuatnya surat resmi pelaporan. Setelah mencari printer di kota Sabang, akhirnya surat itu berhasil dibuat. Surat itu kemudian diserahkan kepada Danlanal Sabang dan pihak kepolisian. Penyerahan kepada Danlanal Sabang berlangsung dengan baik tanpa ada gangguan apapun, namun sebaliknya pada saat surat itu diserahkan kepada pihak kepolisian, ternyata ada hal masalah yang timbul. Didalam surat ijin yang kami miliki, tertulis bahwa penelitian kami dilakukan di “Pantai Barat Aceh” dan hal ini dipermasalahkan oleh pihak kepolisian yang merasa bahwa Sabang dan sekitarnya bukanlah “Pantai Barat”, terpaksa kami bersama dengan pihak kepolisian harus kembali mengahadap Syahbandar, di kantor Syahbandar, kembali ditegaskan oleh Bapak Syahbandar bahwa tulisan “Pantai Barat Aceh” sudah mewakili wilayah Sabang, jadi mestinya tidak ada masalah dengan istilah tersebut. Pengurusan surat2 tersebut telah merubah rencana kami hari ini, walaupun sesudah menyelesaikan pengurusan tersebut akhirnya kami diberikan ijin untuk berlayar kembali.

 

Mengingat waktu yang sudah siang, kami putuskan untuk melakukan penelitian di sebelah selatan P. Weh.

 

Dengan perahu kami menuju lokasi penelitian yang ditandai oleh beberapa batuan yang mencuat dipermukaan laut. Mendekati batuan tersebut, terlihat arus yang mengalir cukup kuat, dari permukaaan terlihat seakan2 aliran sungai yang cukup deras. Sejenak tim merasa ragu2 untuk melakukan pengamatan, lokasi pengamatan ini tidaklah besar, dengan arus yang demikian kuat, sulit dilakukan pengambilan data, dan bahaya lain yang mungkin terjadi adalah tim terbawa arus langsung ke samudra hindia. Namun diputuskan untuk mencoba melakukan penyelaman. Perencanaan yang mendalam segera di lakukan, termasuk diantaranya dimana kapal akan menurunkan penyelam, kapan sebaiknya penyelam harus masuk kedalam air dan juga kearah mana penyelam harus mengikuti arus yang cukup kuat tersebut termasuk direncanakan pula bagaimana kapal menjemput penyelam yang kemungkinan akan terbawa arus.

 

Didalam penyelaman ini kami menjumpai arus yang sangat keras, ikan2 anthias berenang dengan panic karena kerasnya arus. Kamipun hanya dapat bertahan dengan menggunakan “reef hook” sebuah pengait kecil yang dihubungkan dengan tali yang terhubung kepada penyelam, tanpa adanya “reef hook” ini kami semua akan terlempar dibawa arus. Gelembung udara yang di hembuskan oleh penyelam pun tidak lah langsung naik ke permukaan anmun berputar2 dan bergerak secara tidak teratur. Diantara karang dan batuan yang kondisinya masih cukup baik tersebut banyak terdapat gerombolan ikan2 termasuk jenis fusiliers yang berenang dengan cepat. Tak lama kemudian kami menjumpai segerombolan ikan “Black Pyramid Butterflyfish” atau biasa juga disebut Kepe2 Belanda. Jenis Butterflyfish di Indonesia sering disebut dengan ikan “Kepe2”. Ikan ini adalah ikan endemic untuk daerah samudra Hindia barat dan tidak terdapat di wilayah lain di Indonesia. Bentuk tubuhnya mirip dengan ikan Butterfly yang lain, namun guratan warna putih diapit warna hitamnya cukup unik. Disirip atasnya ada sedikit semburat warna kuning. Dalam hal menu makan, ikan inipun agak berbeda dengan ikan Kepe2 yang lain, dimana biasanya ikan Kepe2 suka memakan polip karang dan algae, ikan ini suka memakan plankton.

 

Sejenak kami mengikuti arus dan ternyata di bagian sebelah barat gugusan terumbu karang ini tiba2 arus mendadak menjadi lemah. Di sini kami menyaksikan gugusan karang meja yang sangat indah. Kami tidak menjumpai adanya kerusakan akibat tsunami, bahkan sangat menggembirakan bahwa kamipun tidak melihat adanya tanda2 pengerusakan oleh kegiatan penangkapan ikan illegal. Dugaan kami karena gugusan karang ini hampir seluruhnya tenggelam, terutama apabila air pasang, sehingga pada waktu terjadi tsunami, gelombang pasang yang sangat dahsyat tersebut hanya lewat diatasnya sehingga tidak menimbulkan kerusakan apapun. Karena kondisi arus yang kuat, agaknya menyulitkan orang untuk melakukan pengeboman di sini.

Malam harinya kami berlabuh tak jauh dari pelabuhan Balohan, dibagian selatan P. Weh.

 

29/10/05

Menjelang pagi kami angkat sauh dan berangkat ke P. Rondo, yang terletak disebelah barat laut P. Weh, sebuah pulau terluar dari wilayah barat Indonesia. Dari informasi yang kami terima, sebelumnya belum pernah dilakukan pengamatan kondisi terumbu karang di daerah ini.

 

Jam 07:30 kami membuang sauh di sebelah selatan P. Rondo. Tak jauh dari P. Rondo ternyata juga terdapat gugusan karang yang menonjol dari permukaan laut. Segera tim bersiap2 untuk melakukan pengamatan.

 

Pengamatan pertama kami lakukan disebelah barat P. Rondo. Transek-pun dibentangkan di kedalaman 3 m dan 10 m.  Arus bolak balik cukup kuat menghantam di kedalaman 3m, cukup menyulitkan untuk menempatkan transek. Dikedalaman 3 meter kondisi terumbu karang masih cukup bagus, dibeberapa tempat kami menemukan jejak2 tsunami yang ditandai dengan terbaliknya beberapa gugusan karang meja. Beberapa gugusan batuan yang cukup besar juga terdapat disini. Banyak terdapat kumpulan Damselfish atau biasa disebut di Indonesia ikan Betok, ikan2 ini berenang disekitar karang dan bergerak lincah diantara arus.Karang yang mendominasi adalah dari jenis acropora atau karang tanduk. Juga terdapat kumpulan ikan Convict Surgeonfish atau biasa disebut Botana Pidana, ikan yang sangat menarik dengan warna kuning bergaris hitam. Didaerah ini ikan ini cukup banyak, namun di bagian Indonesia yang lain cukup langka.

 

Ditempat yang lebih dalam kami jumpai gugusan terumbu yang rusak berantakan dalam skala yang cukup luas, disebagian tempat yang lain terdapat pula beberapa karang meja yang terbalik. Karang meja terbalik ini konsisten dengan hasil pengamatan ditempat lain dimana dampak tsunami cukup menonjol, namun luasan karang yang rusak terlalu besar sebagai dampak tsunami dank arena bentuknya lebih berupa rusakan lama, diduga daerah ini sudah mengalami kerusakan yang cukup parah bahkan jauh sebelum tsunami terjadi. Hal itu memperkuat dugaan bahwa kerusakan terbesar di daerah ini lebih disebabkan karena praktek2 perikanan yang merusak.

 

Seorang anggota Tim, Ivan membawa bendera merah putih di punggungnya, sebagai pernyataan P. Rondo sebagai titik terluar wilayah Indonesia dan keberadaan Yayasan dan Jaringan Reef Check di dalam kegiatan survey di seluruh Indonesia.

 

Penyelaman ke 2 kami lakukan disebelah selatanP. Rondo. Mendekati kedalaman 10 meter, kami dikejutkan dengan daerah padang terumbu karang yang rusak berantakan, karang meja yang terguling dan rontokan karang tanduk terlihat dimana-mana. Mulanya kami menduga dampak tsunami ditempat ini mestinya cukup parah sampai mencapai kedalaman 10 meter. Namun ternyata dugaan tersebut salah, mendekati kedalaman 3-5 meter, terlihat hal yang sangat kontras. Gugusan terumbu karang yang sangat sehat kami jumpai di kedalaman ini. Kumpulan “Collared Butterflyfish” atau Kepe Kalong. Ikan ini biasa bergerak secara bergerombol di dekat terumbu karang, gerakannnya cenderung pelan dan sangat indah untuk diamati. Jenis butterflyfish yang lain cenderung berpasangan, sedangkan yang ini suka bergerombol.

 

Disela-sela karang yang tumbuh sehat tersebut kami jumpai gelembung2 udara. Hal yang sama juga dijumpai di daerah sabang, dimana gelembung udara keluar dari sela2 batuan. Apakah hal ini berkaitan? Sayangnya kami tidak melakukan penelitian dari aspek geologi batuan, sehingga hal tersebut tidak dapat kami jelaskan. Namundemikian hal ini merupakan fenomena alam yang sangat menarik.

 

Hal yang sangat menyedihkan harus kami saksikan dimana gugusan karang yang rusak porak poranda tersebut terlihat sangat sepi dari kehidupan, jauh berbeda dengan daerah dimana terumbu karang dalam keadaan baik. Ironisnya kesimpulan yang dapat diambil bahwa kerusakan itu tidak disebabkan oleh akibat alam seperti tsunami, namun lebih banyak disebabkan oleh “tsunami” yang dibuat oleh manusia.

 

Kata akhir:

“Pada tanggal 26 Desember 2005 telah terjadi tragedy kemanusiaan yang sangat luar biasa, Tsunami melanda kawasan pantai Aceh dan daerah lain di Samudra Hindia, memakan korban manusia hampir mencapai 200.000 jiwa, memporakporandakan tanah2 pesisir, bangunan dan kehidupan masyarakat. Seluruh dunia berteriak dan berbondong2 memberikan uluran tangan. Dunia bawah air di Aceh juga mengalami tsunami tersebut, namun dampaknya tidaklah siknifikan. Kerusakan parah yang dijumpai ternyata lebih sebagai akibat “tsunami” yang dilakukan oleh manusia, dan “tsunami” tersebut terjadi setiap hari, luput dari pengamatan…, atau bahkan dibiarkan terjadi…atas nama “penghidupan masyarakat”, dengan dampak yang tak kalah dahsyatnya…siapa yang peduli? Akankah kehidupan bawah laut ini berakhir tak lama lagi?

 

……Banda Aceh, 30 Oktober 2005…..akhir perjalanan “Post Tsunami Coral Reef Health Assessment of Western Sumatra

 

Yayasan Reef Check Indonesia bekerja sama dengan LIPI, Reef Check International Foundation, CORDIO, IUCN, Living Oceans Foundation

 

Anggota tim:

Gregor Hudgson, Professor, Director RCI, USA

Cipto A Gunawan, Koordinator dan Pimpinan Perjalanan

Robert Foster, Perwakilan RCI, USA

Annelise Hagan, Scientist, Living Ocean Foundation, British

Nishan Parrera, Perwakilan IUCN, Srilangka

Yunaldi, Lead Scientist YRCI

Yan Manuputty, Senior Scientist YRCI

Ibnu Azam, Jaringan kerja Reef Check, Aceh

Ivan Silaban, Jaringan kerja Reef Check, Sumut

Wahyudi Jamil, Jaringan kerja Reef Check, Aceh

Dr Onny Prabowo, Dokter Hyperbarik, RSAL – Jakarta

Hasan Nugraha, Teknisi Penyelaman, Purnawirawan Kopaska

Cerman Simamora, Metro TV – Jakarta


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help