The beauty you see here may be gone in less than 28 years from now | |
These fishermen are not like the common ornamental fish fishermen in most part of Indonesia. These people are chatching fish using an eco friendly method, further they are also protecting the population of the fish by managing their catching. With those technique combine with state of the art post catching treatment, they have successfully produce an eco friendly ornamental fish with very low mortality rate.
|
 | salut! tapi aku bingung dgn cara mereka pake regulator... selang itu nyambungnya kemana? |
 | Pak, mau tanya, mereka ini kan penyelam ramah lingkungan (istilahnya), tapi apakah dengan mereka menggunakan kompresor tidak memikirkan efek samping pada diri masing2 ? Makasih yah.. Btw, nice pics Pak Cipto, you're my fave :-)) |
 | ciptoag wrote on Feb 12, edited on Feb 12 Pak, mau tanya, mereka ini kan penyelam ramah lingkungan (istilahnya), tapi apakah dengan mereka menggunakan kompresor tidak memikirkan efek samping pada diri masing2 ? Makasih yah.. Btw, nice pics Pak Cipto, you're my fave :-))  bener sekali mba' debbie, selang itu nyambungnya ke kompresor, kompresor ban lagi. Memang ini dilema yang sekarang kita hadapi, setelah mereka dapat menangkap ikan dengan baik, mestinya mereka harus juga tidak membahayakan diri sendiri. Sudah 2 kali kami melakukan pelatihan kepada mereka tentang penyelaman sehat, dan mereka sekarang mampu untuk merencanakan penyelaman mereka, hasilnya kasus kecelakaan penyelaman menurun secara drastis. Untuk kompresor yang mereka gunakan, tidak ada jalan lain selain memberikan pengertian bagaimana merawat kompresor tersebut sehingga meminimalkan kontaminasi yang mungkin terjadi. Memang ada filter yang bisa mereka gunakan namun karena harganya yang relatif mahal, filter itu belum terjangkau. Kami sedang mengupayakan bagaimana mereka dapat membuat filter sendiri untuk kompresor mereka. Doakan saja bahwa upaya kami dapat segera berhasil. Salam Bahari |
 | aku pernah nemu masyarakat yg kerjanya sbg penyelam teripang menggunakan kompresor itu. bahaya paling besar pd mereka adalah penyakit kelumpuhan. dan anehnya lagi,setelah mereka berangsur sembuh dgn pengobatan ala mereka,setelah itu mereka tetap menyelam lg pake kompresor itu. dibilang mereka gak tau resiko,mereka tau kok. dlm fikiran ku mgkn krn desakan ekonomi aja mereka harus melakukan itu ( menurut ku lho ) |
 | ciptoag wrote on Feb 12, edited on Feb 12 aku pernah nemu masyarakat yg kerjanya sbg penyelam teripang menggunakan kompresor itu. bahaya paling besar pd mereka adalah penyakit kelumpuhan. dan anehnya lagi,setelah mereka berangsur sembuh dgn pengobatan ala mereka,setelah itu mereka tetap menyelam lg pake kompresor itu. dibilang mereka gak tau resiko,mereka tau kok. dlm fikiran ku mgkn krn desakan ekonomi aja mereka harus melakukan itu ( menurut ku lho )  Benar kata Mas Oji, mereka sadar benar dengan resiko penyelaman, dan karena desakan ekonomi mereka tetap melakukan hal tersebut. Masalahnya mereka tidak tahu kenapa mereka bisa mengalami kelumpuhan, bahkan kematian akibat menyelam. Berbagai dugaan mereka kemukakan, mulai dari yang bersifat magis maupun yang menurut mereka masuk akal. Karena hal itulah maka kami memberikan pendidikan serta pengertian mengapa hal itu bisa terjadi pada mereka. Yang jelas mereka bukan orang bodoh, dengan sistem pengajaran yang tepat mereka dapat dengan mudah mempelajarinya, bahkan mereka dapat merencanakan penyelaman mereka dengan menggunakan dive table khusus. Setelah mereka mendapatkan pelajaran, sebagian dari mereka menerapkannya (walau ada yg tetap bandel), hasilnya kami bisa mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi. Bahkan ada beberapa dari mereka yang akhirnya menjadi certified diver secara resmi dengan mengikuti pendidikan diver pada umumnya. |
 | program yg sangat mendidik om, smg bisa ditiru oleh lembaga2 lainnya yg peduli terhadap sesama. |
 | bukankah ini juga salah satu PR bagi petinggi DKP yah ? ato mungkin juga tugas dari petugas Taman Nasional ? saya cukup prihatin ketika nonton tayangan di salah satu program SCTV yang mengangkat isu mengenai penyelam kompresor di wilayah Kep.1000 (P.Pramuka), miris sekali harus melihat nasib mereka yang akhirnya harus mengalami kelumpuhan, padahal di P.Pramuka sendiri kan ada kantor BTNKS, apakah mereka sudah berupaya untuk mencegah para penyelam menggunakan teknik kompresor ? |
 | om, ini bisa di publikasikan lewat liputan, kalo si om ga keberatan sih..... |
 | ciptoag wrote on Feb 13, edited on Feb 13 kalo menurut aku, harusnya mereka bisa mempertimbangkan lagi dari segi keamanan & kesehatan, secara logika, siapa sih yang mau menanggung resiko sakit seumur hidup, jadi jangan hanya berdasarkan dari desakan faktor ekonomi semata. Baiknya pada saat penyuluhan juga melibatkan pendapat & masukan dari pihak medis, supaya para nelayan itu sadar benar akan bahaya & efek negatif menyelam dengan menggunakan kompresor.. btw, nice topic :-))  sebenarnya dilematik sekali, sama halnya dengan pekerjaan-pekerjaan yang "miris" lainnya, kalo ditanya apakah mereka suka/mau dengan pekerjaan ini, jawabnya hampir pasti "tidak", namun disisi lain, mereka juga bertanya "apa lagi yg bisa kami lakukan", lha kita yang jawabnya susah. Selama ini yang kami lakukan adalah berusaha memberi mata pencaharian alternatif, karena ke bisaan saya di dunia wisata diving, ya itulah yang saya tawarkan ke mereka. Beberapa dari mereka berangsur-angsur belajar utk jadi diver beneran dan mulai ikut temenin wisatawan, beberapa lagi mulai bertani terumbu karang. Hal inilah yang akhirnya melahirkan program "Adopt the Coral". www.adoptthecoral.org. Program ini sempat "pingsan" beberapa lama karena kekurangan biaya, Insya Allah kami sedang berusaha memulainya lagi. O...ya...sekarang di tempat para nelayan ini sudah ada 2 set peralatan selam yang lengkap, termasuk tabungnya, jadi mereka sudah bisa pakai alat yg benar. Semoga kami bisa menambah alat2 itu lagi |
 | Penyelam kompresor, sebenarnya hampir merata dilakukan di pesisir Indonesia. Umumnya mencari lobster, teripang dan ikan hias. Mereka tau resiko yang mereka hadapi sebenarnya, tetapi seperti kata Mr. Ojifaroz diatas, karena tekanan ekonomi. dan harga komoditi diatas sangat menggiurkan. Sayangnya, financial management nelayan juga rendah, akhirnya tetap keabisan uang dan nyelam trus. Bahkan memaksakan diri sampai beberapa jam di kedalaman lebih dari 20 m. Selain pendidikan penyelaman yang baik, pendidikan pola hidup dan pengelolaan keuangan serta mata pencaharian alternatif lain perlu dilakukan. Kondisi yang kompleks seperti ini, membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama dan akibatnya biaya yang besar. Kecuali, community empowerment telah bagus dan akhirnya masyarakt tersebut dapat melatih masyarakat sekitarnya. |
| |