Cipto Aji Gunawan - Marine Eco Tourism Development Consultant - PADI (Professional Association of Diving Instructors) Master Instructor and Course Director - Underwater Photo - Video Production & Training.... "Serving the Diving Industry since 1992"

Original Message -----
Sent: Monday, March 03, 2008 12:48 AM
Subject: [alfa_dolfin] Perlu kah Kusus Underwater Photography

Rekan-rekan,
 
Menikmati foto-foto apik bawah laut, timbul pertanyaan, kog bisa sich mereka meng-create foto nan apik, berseni, serta bernilai jual.....? Apakah di dukung alat atau skill atau sense of arts dari sang fotografer....? pernah di bahas juga bahwa yang menentukan adalah sang fotografer, yang dengan kata lain "The men behind the gun". Jadi gear nomor sekian lah......
 
Pertanyaan-nya, terlepas beberapa penawaran kursus underwater photography oleh beberapa dive center, untuk meng-create foto underwater apik, ber-seni, serta ber-nilai jual, perlu kah join kursus....? adakah teknik tertentu yang di ajarkan di kursus tersebut yang tampak-nya sulit dilakukan secara otodidak....? atau adakah rekan-rekan yang merasakan suatu progress/perubahan sebelum dan sesudah kursus.....?
 
Mohon pencerahan-nya donk.....Thanks
 
cheers

sekilas info....

berkembangnya digital fotografi merupakan salah satu langkah yang luar biasa dalam industri diving. beberapa tahun yang lalu bahkan saya pernah meramalkan bahwa industri diving di dunia (yang pada saat itu cenderung terus menurun) akan kembali bangkit dengan adanya revolusi digital foto. Alasan "ramalan" itu ada beberapa yaitu:
- Dengan digital fotografi, pembuatan gambar di bawah air menjadi relatif jauh lebih mudah dan murah
- Digital fotografi akan memberikan warna kompetisi kepada dunia diving yang selama ini dikenal sebagai "non-competitive" activity
- Digital fotografi memberi alasan kepada orang untuk tetap diving
- Digital fotografi mampu memenuhi "ego" seorang penyelam untuk aktualisasi diri
- Digital fotografi memberi kesempatan kepada orang awam untuk menemukan sesuatu (miaslnya spesies baru) yang luar biasa
 
Kesemua kecenderungan itu saat ini mulai menjadi kenyataan. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, banyak bermunculan fotografer2 baru (era digital) yang secara cepat mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Kompetisi fotografi berlangsung dimana-mana. Penghargaan publik selam terhadap atas prestasi seseorang telah memacu "ego-ego" untuk saling bersaing secara positif (semoga nantinya tidak berubah menjadi hal negatif).
 
Kembali ke topik dibawah, "folks behind the camera" memang sangat menentukan hasil sebuah karya. Apabila di jaman underwater fotografi film kemajuan seseorang cenderung landai dan lama, dijaman digital saat ini, seseorang dapat menjadi seorang underwater fotografer handal dalam waktu sangat singkat. Asal rajin memotret dan punya alatnya (apapun jenisnya), seseorang dapat menguasai teknis underwater fotografi dengan mudah, selanjutnya yang berperan adalah "mata" dan "rasa".
 
Pendidikan/seminar underwater fotografi juga banyak bermunculan, baik yang dilakukan oleh instruktur yang bersertifikat (uw photo certificate), maupun yang dilakukan oleh "instruktur" non certificate. Pendidikan yang cenderung "sekedarnya" sampai yang dilakukan secara serius. Apakah perlu ikut kursus? jawabannya kembali kepada jenis kursus yang mana yang anda pilih.
 
Sebuah kursus underwater photography minimal bisa memberi anda backgraound teori dan teknis untuk pembuatan gambar dibawah air, sehingga proses "try and error" dapat diminimalisasi dan hasilnya anda bisa menghasilkan foto-foto yang baik dalam waktu yang lebih singkat. Idealnya: seorang instruktur underwater photography juga seorang instruktur diving yg berpengalaman dimana sebenarnya banyak trik dan tips pengambilan gambar dibawah air yang berkaitan dengan teknik-teknik diving (apalagi kalau sudah mencakup segi keamanan, lingkungan, pergerakan penyelam, mahluk-mahluk bawah air dan isu-isu konservasi). Seorang instruktur underwater photography yang baik tidak hanya mengajarkan dasar2 teknis fotografi secara mendalam, namun juga dapat memberi trik dan tips yang kemungkinan bahkan tidak terdapat dalam buku manual. Sebuah kursus underwater photography yang lengkap ditambah dengan sedikit pengalaman dan pengetahuan tambahan, tidak saja membuat anda dapat mengambil gambar yang indah namun juga bermakna dan mempunyai ciri khas (biasanya inilah yang akhirnya membedakan seorang fotografer dengan fotografer lainnya).
 
Apakah menjadi fotografer handal hanya dapat dilakukan melalui kursus? tentu saja tidak, dengan banyak membaca buku, melihat karya orang lain, tidak malu bertanya, banyak berdiskusi, banyak menyelam dan banyak memotret, seseorang juga dapat menjadi fotografer handal, hanya saja biasanya makan waktu yang jauh lebih lama (dan duit lebih banyak) apabila dibandingkan orang yang mengambil kursus/seminar yang tepat. Walaupun waktunya tentunya masih jauh lebih singkat dari pada jaman fotografi film.
 
demikian sekilas info...salam
 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, March 12, 2008 12:03 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas pencerahan-nya. Dari informasi yang di sampaikan, saya menggaris bawahi manfaat kursus Underwater Photographi adalah
1. Meminimalisir "try 'n Error" dalam WAKTU SINGKAT
2. Menghasilkan foto yang BAIK dan ber-MAKNA dalam WAKTU SINGKAT
3. Mendapatkan TIPS & TRIK yang tidak terdapat di buku manual
 
Setidaknya 3 manfaat di atas yang bisa diperoleh dari kursus dibandingkan kalau belajar otodidak. Berarti kurang lebih hampir sama dengan kursus fotografi up-water. Tetapi kalau kursus tanpa banyak latihan dan apresiasi may be percuma aja  ya. Yang kemudian menjadi pertanyaan lagi :
1. Apakah dalam kursus diajarkan pengenalan secara spesifik jenis-jenis kamera maupun peralatan yang ideal untuk pemotretan underwater?
2. Ada anggapan untuk meng-create foto landscape/sceneray underwater menggunakan DSLR. Sebaliknya untuk yang menggunakan pocket cukup berpuas diri dengan makro. Pertanyaan-nya, apakah dalam kursus, yang termasuk TIPS & TRIK di atas, diajarkan juga bagaimana memotret landscape/scenary yang oke dengan menggunakan pocket?
 
cheers
 
 
info siang.....
Sebelum menjawab pertanyaan dibawah, ada sedikit latar belakang.tentang masalah kurikulum pendidikannya
Ada beberapa jenis kurikulum underwater photography:
1. Kurikulum yang dibuat oleh diving agency (PADI, SSI, dsb) yang biasanya berorientasi pada pengenalan dasar yang cukup simple.
2. Kurikulum yang dibuat oleh masing-masing Instrukturnya (certified instructor maupun non-certified instructor), yang dibuat sesuai selera masing-masing "instruktur"nya
3. Kurikulum yang berdasar pada kurikulum diving agency namun di-"elaborate" untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu (biasanya dengan adanya bbrp referensi tambahan)
 
Untuk poin 1 & 3 hanya bisa diajarkan oleh Certified Instructor dari masing-masing agencynya. Walau kurikulumnya sama, namun perlu diingat bahwa latar belakang, pengalaman dan pengetahuan instructornya juga memegang peran sangat penting. Jenis kurikulum semacam ini biasanya lebih terstruktur, dan apabila peserta didik berhasil lulus, akan mendapat sertifkat layaknya sertifikat specialty diving.
Untuk poin 2, bisa dibuat oleh siapa saja dan tidak ada sertifikat seperti layaknya poin 1 dan 3.
 
Jawaban kedua pertanyaan dibawah mengacu pada kurikulum dasar yang dikembangkan oleh diving agency.
 
1.Apakah dalam kursus diajarkan pengenalan secara spesifik jenis-jenis kamera maupun peralatan yang ideal untuk pemotretan underwater?
 
Kamera yang bisa digunakan untuk pemotretan bawah air saat ini sangat banyak sekali, apabila "pengenalan secara spesifik" itu maksudnya pengenalan dari masing2 jenis kamera yang ada di pasar, saya kira hampir tak mungkin, seorang instruktur paling berpengalaman sekalipun tidak akan mencoba seluruh kamera yang ada di pasar. Namun tentunya ada hal-hal mendasar dan persamaan dari tiap2 kamera tersebut yang berguna bagi pemotretan bawah air. Hal spesifik semacam inilah yang mestinya ada dan dibahas lengkap. Sebuah kursus sebaiknya juga dapat menunjukkan berbagai macam kamera (poket maupun dslr) serta tidak terpaku pada satu merk saja (kecuali memang seminarnya disponsori oleh merek tertentu...ini yang sering saya sebut "Prominar" (promosi yang dibungkus seminar)).
 
2. Ada anggapan untuk meng-create foto landscape/sceneray underwater menggunakan DSLR. Sebaliknya untuk yang menggunakan pocket cukup berpuas diri dengan makro. Pertanyaan-nya, apakah dalam kursus, yang termasuk TIPS & TRIK di atas, diajarkan juga bagaimana memotret landscape/scenary yang oke dengan menggunakan pocket?
 
Dalam menggunakan peralatan, yang paling penting kita harus benar2 tahu batasan dari peralatan tersebut (baik poket maupun dslr), pada saat kursus anda akan diajarkan sampai mana batasan-batasan tersebut dan yang paling penting juga bagaimana menghasilkan foto yang optimum dalam batasan peralatan (plus asesorinya, kalo ada) yang dimiliki. Kalau anda menggunakan kamera poket standar (non asesori), memang foto macro (dg objek diam ataupun relatif bergerak lambat) adalah objek yang paling tepat untuk jeprat-jepret. Karena relatif mudah, maka objek macro semacam ini lah yang biasanya pertama di cari. Namun sebenarnya ada banyak juga trik dan tips yang bisa diajarkan di tingkat macro ini sehingga foto bisa lebih maksimal. Untuk kondisi pemotretan tertentu, kamera poket juga dapat menghasilkan foto wide yang lumayan (apalagi kalo poketnya ditambah bbrp asesori), namun memang prosesnya lebih ribet daripada membuat foto macro, hal-hal semacam ini bisa ditanyakan pada saat kursus.
 
demikian info siang...salam
 
 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, March 13, 2008 12:47 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas informasinya. Dari tulisan di bawah ini saya coba ambil kesimpulan bahwa untuk kursus UP bukanlah hal yang percuma dan sia-sia bilamana ingin meningkatkan kualitas dan ketrampilan motret bawah air. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah kepada siapa kita berguru. Karena dari uraian di bawah ini terutama point 2, bisa jadi materi dan metode pengajaran masing-masing instruktur akan berbeda, sesuai pengalaman dan ketrampilan-nya.
 
Yang menjadi pertanyaan, seperti seorang instruktur selam yang punya tingkatan tertentu baru bisa ngajar, apakah untuk spesialisasi seorang instruktur wajib punya sertifikasi untuk UP? Sebuah agency yang menawarkan atau membuka program kursus UP, apakah etis bilamana peminat menanyakan lebih dulu apakah sang instruktur punya licence untuk UP....?
 
Sekali lagi thanks banget atas pencerahan-nya.
 
cheers
 
 
tambahan info....
 
".......seorang instruktur selam yang punya tingkatan tertentu baru bisa ngajar, apakah untuk spesialisasi seorang instruktur wajib punya sertifikasi untuk UP?"
 
ada 2 organisasi selam dunia yang selama ini saya ikuti perkembangannya. Keduanya memiliki "policy" yang agak beda dalam sertifikasi UP specialty. Organisasi A mensyaratkan, selama seseorang telah berpengalaman sebagai uw photographer (dibuktikan dengan pernyataan log uw photo activities) dan juga sebagai active instructor, yang bersangkutan diberi pilihan untuk mengajukan aplikasi sebagai Spec UP Spec Inst, atau ybs dapat mengambil kursus kepada seorang UP Specialty Instructor Trainer untuk di latih sebagai UP Spec Instructor. Calon spec Inst ini tidak perlu memiliki sertifikat UP sebelumnya. Dalam proses ini, untuk menjadi cerified uw photography spec inst sebenarnya cukup mudah.
 
Untuk Organisasi B, memiliki syarat tambahan, yaitu: calon UP Spec Instructor juga wajib menunjukkan portfolio foto2 yang pernah dihasilkannya disamping persyaratan yang ada pada organisasi A.
 
"Sebuah agency yang menawarkan atau membuka program kursus UP, apakah etis bilamana peminat menanyakan lebih dulu apakah sang instruktur punya licence untuk UP....?"
 
Saya kira hal itu adalah hal yang wajar saja, sebagai seorang calon murid (atau customer) kita punya hak untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Apalagi kalau kita ingin belajar secara maksimal dan juga mendapat sertifikat, jadi jangan sampai antara yang bertanggungjawab atas pengajaran dan yang mensertifikasi ternyata beda orang. Mungkin ada baiknya kalau kita juga menanyakan portfolio si instructor sehingga kita bisa menilai pengalaman dan "style" uw foto yang menjadi ciri khasnya.
 
demikain tambahan info...

Original Message -----

Sent: Friday, March 14, 2008 12:20 AM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Terima kasih Pak Cipto atas pencerahan-nya..... Dari yang tidak tahu menjadi tahu....Dari yang tidak mengerti menjadi lebih mengerti..... Kalau boleh kembali ber-guru nich. Bagi seorang instruktur UP paling tidak punya low UW photo. Tentu-nya dari UW photo bagi yang jeli akan terlihat minat 'n may be speciality dari sang instruktur. Sama seperti fotografer up-water profesional yang disadari atau tidak terspesialisasi secara alami. Ada instruktur yang jago untuk motret model ketimbang landscape demikian juga sebaliknya.
 
Yang menjadi pertanyaan, pertama, ada ngga sich fotografer UW Photo yang disadari atau tidak "ter-spesialisasi" seperti itu? misalnya ada instruktur yang memang jago untuk motret scenary atau sebalik-nya untuk makro.
 
salam

nambah lagi infonya....

.....ada ngga sich fotografer UW Photo yang disadari atau tidak "ter-spesialisasi" seperti itu?....
 
Tentunya ada ya, "spesialisasi" tersebut sangat bergantung pada minat dan latar belakang seseorang. Ada yang suka macro dan terus mengexplorasi macro photo, demikian juga wide, atau bahkan animal behaviour, atau malah ke arah dokumentasi, fashion dan banyak hal lainnya.... Ada juga yang "over all" (yg ini agak jarang).
 
demikian..
 
----- Original Message -----
Sent: Sunday, March 16, 2008 1:16 PM
Subject: Re: [alfa_dolfin] Perlu kah Kursus Underwater Photography

Pak Cipto, yang kesekian kali-nya mengucapkan terima kasih atas pencerahan-nya. Bukan maksud "mencuri" ilmu fotografi Pak Cipto lho, hanya ingin mengembangkan wacana umum perihal topik ini yang may be berguna kalau saya ingin melanjutkan diskusi ini.
 
Mengenai speciality, sebagaimana Pak Cipto tulis, "ada juga yang "over all" (yg ini agak jarang)", kalau demikian apakah menjadi kode etik bagi seorang instruktur UWP sebelum start atau masih menginformasikan skill-nya kepada calon siswa untuk meng-sharingkan "speciality"-nya, yang berarti juga disesuaikan minat si calon murid....?
 
Pertanyaan berikut-nya, apakah siswa yang menekuni kursus UWP umum-nya pemain baru atau memang sebelumnya sudah punya basic knowledge 'n aktif motret, terutama untuk UWP? Saya membayangkan dan punya pra-paham mereka yang ambil UWP setidak-nya sudah dan sedang menekuni hobi motret terutama untuk UWP. Alasan-nya, UWP merupakan cabang general photography knowledge, dan juga menjadi speciality dari kegiatan diving.
 
Pengalaman Pak Cipto aja dalam meng-handel siswa-siswa-nya, apakah umum-nya si siswa langsung menekuni bidang UWP yang diminati-nya? ataukah kebanyakan minat siswa masih "general" ? Kalau saya pribadi terus terang aja minat untuk UWP pertama pada landscape/scenery. Cuma berhubung hanya hold pocket kamera, terpaksa masuk ke Makro. Padahal untuk foto up-water sangat jarang saya motret makro. Minat kedua masih di UWP, adalah candid perilaku / ekspresi / gaya our buddy atau diver lain-nya. Tentunya kalau saya memutuskan akan ambil kursus UWP, prioritas akan garap minat pertama tadi. Berharap kepada instruktur bersedia sharingkan bagaimana menggarap nuansa landscape meski hanya kamera pocket.
 
Terima kasih sebelum-nya atas pencerahannya.
 
cheers
 
 
info lagi....
 
perkara "curi mencuri", sayapun banyak men"curi" ilmu dari yang lain kok, bahkan paling enak itu "nyuri" dari murid sendiri..hi..hi..hi
 
apakah menjadi kode etik bagi seorang instruktur UWP sebelum start atau masih menginformasikan skill-nya kepada calon siswa untuk meng-sharingkan "speciality"-nya, yang berarti juga disesuaikan minat si calon murid....?
 
Saya kira tidak perlu seorang instruktur UWP menginformasikan hal ini, seorang instruktur sudah wajib menguasai dengan baik materi pelatihan yang diperlukan untuk melakukan pengajaran sesuai dengan kurikulumnya. Mengenai kecenderungan "spesialisasi" si instruktur sebenarnya lebih banyak pada minat dan pengalaman ybs. Hal ini bisa tercermin dari portfolio ataupun peralatan yang dipergunakannya. Calon siswa dapat menanyakan hal tersebut, namun deklarasi formal sepertinya sih nggak perlu ya. Sebagai contoh, saya punya temen baik bbrp uw fotografer internasional, si A motret segalanya, dari yang kecil sampai yang besar-besar, mulai yg jurnalistik sampai yg art, saya anggap dia cukup "over all", namun sebaliknya temen saya yang satunya si B, foto yg dihasilkan sebagian besar macro, tapi kalo berdiskusi dengan si B tentang pemotretan jenis besar-besar dia juga bisa jadi temen ngobrol yang enak.
 
apakah siswa yang menekuni kursus UWP umum-nya pemain baru atau memang sebelumnya sudah punya basic knowledge 'n aktif motret, terutama untuk UWP?
 
wah, kalo ini variatif ya, ada yg baru ( bahkan belum pernah motret di air), sampai ada juga yg fotonya udah masuk ke buku-buku ilmiah.
 
Saya membayangkan dan punya pra-paham mereka yang ambil UWP setidak-nya sudah dan sedang menekuni hobi motret terutama untuk UWP. Alasan-nya, UWP merupakan cabang general photography knowledge, dan juga menjadi speciality dari kegiatan diving.
 
Saya setuju, yang diperlukan disini adalah minat yg serius. Untuk menjadi UW fotografer handal memang perlu modal keseriusan ini.
 
apakah umum-nya si siswa langsung menekuni bidang UWP yang diminati-nya? ataukah kebanyakan minat siswa masih "general" ?
 
Kalo pengalaman saya, kira2, 50% masih sangat baru tapi punya minat kesitu, 40% dah pada motret, yg 10% udah pada jago motret
 
Disamping adanya kursus underwater foto yang formal, ada juga bentuk-bentuk seminar atau workshop, lha yang seperti ini "kurikulum"nya biasanya lebih fleksibel. Terutama untuk workshop, biasanya interaksi antara peserta dan instrukturnya jauh lebih banyak, dan apabila instrukturnya memang bagus, bahkan bisa diajak tanya jawab utk hal-hal spesifik yang sifatnya "custom made" dan sesuai dengan kebutuhan si penanya.
 
Saran saya, kalo masih ragu-ragu dengan kemampuan teknis dan/atau pengetahuan dasar, sebaiknya ikut kursus formal saja. Sebaliknya kalo dah menguasai teknis dasar dan ingin memperdalam sesuatu hal khusus serta sharing ide, sebaiknya ikut workshop aja. Dan ada juga workshop yang bisa sekalian sertifikasi. Kalo mau belajar sendiri juga nggak apa-apa, asal banyak-banyak motret, banyak baca buku, banyak eksperimen, banyak nanya/diskusi dan tentunya banyak waktu untuk ikut trip...he..he..he
 
begitulah...
 
Terima kasih informasinya Pak Cipt.....Menarik juga kalau ikut
workshop UWP. Walau kendalanya kalau workshop pesertanya cukup ramai
tapi dari sisi biaya lebih terjangkau. Namun untuk latihannya ya
tanpa instruktur ya. Kalau ambil kursus, bisa lebih detail 'n bisa
langsung praktek. Cuma memang biayanya menyesuaikan.....Pada
akhirnya masing-masing punya plus minus-nya.....

cheers
 
 
untuk workshop, bisa aja banyak peserta, bisa juga lebih sedikit, tergantung dari penyelenggaranya. Begitu pula, key note speaker yg membawakan workshop, bisa sangat bervariasi, dari sekedar UW fotografer yg sering motret, celebrity UW fotografer bahkan bisa juga instruktur UW fotografer yg berpengalaman, paling jeli-jeli ngeliat siapa penyelenggaranya (apakah ada batasan peserta atau keroyokan) dan orang yang membawakannya, karena biasanya nggak ada standard kurikulum tertentu yg disampaikan.

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help